Darrel duduk di kursinya dengan santai, satu tangan menopang dagu, sementara tangan lainnya memegang ponsel. Matanya berbinar ceria, dan senyumnya tak pernah lepas dari wajahnya. Ia terlihat begitu asyik mengetik sesuatu, lalu terkikik pelan membaca balasan yang masuk. Di depannya, Rian berdiri sambil membaca jadwal rapat dan kegiatan harian bosnya. Dengan suara datar namun profesional, ia terus membacakan poin demi poin, berharap mendapat perhatian Darrel. "Jam sepuluh, Anda ada pertemuan dengan tim keuangan. Kemudian pukul satu siang, rapat bersama klien dari Singapura. Lalu pukul tiga sore—" "Mm-hmm..." Darrel hanya bergumam tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. Rian melirik Darrel dengan bingung, lalu melanjutkan. "Pukul tiga sore, Anda akan meninjau proyek baru di kawasan se

