Irene menghapus air matanya dengan punggung tangan, mencoba menenangkan diri dari emosi yang tiba-tiba membanjiri hatinya. Ia menatap Darrel yang masih memegang tangannya dengan erat, menunggu jawabannya dengan ekspresi penuh harap. “Aku mau,” Irene akhirnya membuka suara, suaranya terdengar lembut namun tegas. Darrel langsung berseri-seri. “Kamu serius?” tanyanya penuh antusias, seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru. Irene terkekeh pelan. “Aku mau kita coba lagi. Tapi…” Ia berhenti sejenak, menatap Darrel dengan tatapan serius. “Tapi apa?” Darrel mendekat, seperti takut melewatkan apa pun yang akan dikatakan Irene. “Tapi aku nggak mau kita disebut pacaran,” jawab Irene sambil menarik tangannya dari genggaman Darrel. Darrel mengernyitkan dahi. “Maksud kamu? Kenapa

