Bab 21. Luka yang Menganga

1517 Words

Darrel berdiri di tengah kamar, napasnya memburu seperti habis berlari maraton. Perasaannya bercampur aduk antara marah, kecewa, dan penyesalan. Ia memutar tubuh, melihat sekeliling kamar yang terasa semakin sempit. Pikirannya melayang ke masa lalu, saat semuanya terasa lebih sederhana—saat ia masih bersama Irene, sebelum semuanya hancur karena keputusannya. "Aku bodoh! Bodoh!" Darrel berteriak, lalu mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustrasi. Ia menghempaskan tubuh ke kursi, tapi itu tidak mengurangi rasa sesak di dadanya. Bayangan wajah Irene yang penuh air mata tadi terus menghantui pikirannya. Kata-kata Irene masih terngiang di telinganya, menusuk hati seperti pisau tajam. "Kamu memilih Irana, sementara aku harus menanggung semuanya sendirian." Darrel berdiri lagi dengan ger

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD