Part 3 | Azka

1113 Words
Seorang gadis kecil berumur 9 tahun sedang menyaksikan pertengkaran orang tuanya dari balik tembok. Gadis itu bernama Angel, dia menangis tanpa suara sementara air matanya tetap jatuh. Adegan ini terlalu pahit untuk disaksikan oleh anak yang belum paham tentang masalah orang dewasa, yang bisa ia lakukan hanya menangis dan bersembunyi di balik tembok. Yang ia tahu, selama ini orang tuanya akur-akur saja tanpa permasalahan pelik yang menimpa keluarganya, tetapi sekarang bayangan keluarga harmonis yang membahagiakan ambyar sudah, tidak ada lagi negeri dongeng yang membahagiakan. Di balik tawa yang diciptakan mamanya selama ini ternyata terdapat luka batin yang amat menyiksa, tetapi hal itu tak pernah ia perlihatkan kepada anak-anaknya. "Aku ingin menikah lagi, Fani!" ujar Andri kepada sang istri seperti tidak ada beban sama sekali, padahal jelas-jelas air mata wanita yang biasa disapa Fani sudah tak terbendung lagi. Tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang mau dimadu, tidak ada yang rela berbagi suami untuk wanita lain, lebih baik ia berpisah daripada harus diduakan. Fani semakin menangis, dia tidak rela jika suami yang menikahinya 10 tahun lalu harus menikah lagi. "Pikirkan lagi, Mas. Kita punya Angel dan Gavin. Mereka terlalu kecil untuk menghadapi semua kepelikan ini, mereka akan bingung kenapa ayahnya menikah lagi. Dan itu akan sangat menyakitkan, bukan cuma untuk aku, tapi juga untuk anak-anak, jangan hancurkan istana yang sudah kita bangun hanya untuk kepuasan kamu, Mas," ucap Fani di sela isak tangisnya. Ia masih sangat berharap kalau suaminya itu akan membatalkan niatnya untuk menikah lagi. Keluarga mereka sudah cukup bahagia, tidal perlu lagi mengundang orang ketiga ke dalam pernikahan yang telah mereka bangun selama sepuluh tahun. "Kamu tahu 'kan? Aku menikahimu bukan atas dasar cinta, orang tuaku dan orang tuamu yang menjodohkan kita. Dan seiring berjalannya waktu kamu berhasil membuatku mencintaimu, tapi aku tidak bisa memungkiri ini semua, aku masih menyimpan rasa kepada pacarku saat itu. Aku mencintaimu dan dia dalam waktu yang bersamaan." Fani menghela napas pelan, lalu menyeka air matanya, ini namanya egois, ia ingin memiliki dua istri dalam waktu bersamaan, ini bukan hanya menyakiti Fani, tetapi ia juga menyakiti Sandra, karena tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang mau berbagi cinta. "Apa kamu masih memiliki hubungan dengan Sandra?" Jelas Fani sangat tahu siapa Sandra, dulu hubungan Andri dan Sandra benar-benar ditentang oleh orang tua Andri, kalau Andri tidak mau menikah dengan Fani yang notabene anak dari sahabat ayahnya, maka Andri akn dicoret dari ahli waris seluruh aset. Jadinya mau tidak mau Andri menikah dengan Fani. Ia kira Andri sudah memutuskan hubungannya dengan Sandra, ternyata ia salah. Awalnya Andri benar-benar tidak peduli akan pernikahannya dengan Fani, tetapi lambat laun pernikahan mereka menjadi harmonis karena kehadiran Gavin dan Angel di hidup mereka, ternyata itu semua topeng untuk menutupi hubungannya dengan Sandra. Fani benar-benar merasa sangat ditipu oleh suaminya sendiri. Andri tidak menyangka bahwa istrinya sangat mudah menebak tentang hubungannya dengan Sandra, tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi, lebih baik Fani mengetahui yang sebenarnya. "Ya, aku masih mencintai Sandra. Bahkan, dia memiliki anak dariku." Pertahanan Fani runtuh seketika, ia benar-benar terkejut atas apa yang didengar olehnya, ia memegang jantungnya kuat-kuat karena terasa sakit sekali, penyakit jantung yang dideritanya bereaksi saat ini juga. Ucapan Andri sukses membuat dunia Fani gelap dan tubuhnya ambruk. "Mamaaaaaaaaaaaa...." Angel keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Fani yang tergeletak di lantai, sedangkan Andri masih mencerna atas apa yang terjadi saat ini juga. "Papa, kenapa diam aja?!" Teriakan Angel membuat Andri langsung tersadar dari lamunannya dan ia langsung menggoyangkan tubuh istrinya itu berkali-kali, tetapi matanya masih saja tertutup. "Fani, bangun!!!" Histeris Andri melihat Fani antara hidup dan mati. Air mata Angel tak terbendung lagi karena melihata keadaan wanita yang melahirkan sepertinya ini. "ANGEL BENCI PAPA!" teriak Angel di hadapan Andri. "Ayo, kita bawa mama ke rumah sakit." Andri langsung menggendong istrinya itu dengan terburu-buru, dan Angel berlarian mengikuti sang ayah. Angel terbangun dari mimpinya, sebenarnya itu adalah kelajadian belasan tahun yang lalu, tetapi sering hadir ke dalam mimpi gadis itu. Ia hanya bisa menghela napas saat mimpi itu kembali menyerangnya, gadis itu meraih pigura foto di atas nakas samping ranjangnya. Itu adalah foto Fani yang sedang menggendong Angel saat masih bayi, wajahnya sangat cantik, dan tatapannya lembut membuat siapa pun merasa damai jika menatapnya. "Ma, apa kabar? Kangen Angel enggak? Aku kangen banget sama Mama, pengin rasanya memeluk Mama lagi, bercerita tentang keluh kesahku, tapi rasanya udah mustahil. Semoga mama bahagia selalu, doaku selalu untuk mama, dan mama juga jangan lupa doakan Angel agar bahagia selalu di sini dan kuat menjalani takdir." Setelah itu, Angel meletakkan kembali pigura foto di tempat semula, lalu ia menyibakkan selimutnya, lantas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Setelah bersiap-siap yang tak membutuhkan waktu yang lama, ia langsung turun ke lantai satu, dan ia berpapasan dengan orang tuanya yang sarapan. Jujur, ia malas kalau harus sok basa-basi dengan mereka yang tidak ia sukai, itu hanya akan membuang waktunya yang berharga.   "Angel, ayo sarapan dulu." Ucapan Sandra yang membuat langkah Angel terhenti. "Ayo, Nak, Mama udah masakin makanan kesukaan kamu."   Angel menoleh. "No, thanks." Ia tidak sudi kalau harus makan semeja dengan mereka, apalagi sampai menyentuh masakan ibu tirinya pun ia ogah. Kalau lapar lebih baik ia masak sendiri atau delivery order atau makan di luar. Ia tidak akan pernah lupa dengan peristiwa sebelum mamanya meninggal, ia mendengar dengan jelas apa yang menjadi penyebab pertengkaran orang tuanya dulu.   Andri mengehentikan kuyahannya lalu menatap Angel. "Ngel, enggal ada salahnya kalau kalau makan masakan mamamu, ini enggak beracun, enak malah. Ngel—"   Angel langsung menyela ucapan Andri. "Maaf, mamaku hanya satu, bukan yang lainnya. Jadi, stop kalian berlaku seolah wanita itu adalah ibuku. Sampai kapan pun aku enggak akan mengakui dia seorang ibu."   "Kam—" Saat Andri ingin beranjak dari tempatnya, namun langsung ditahan oleh Sandra.   Angel pun langsung meninggalkan rumah itu tanpa permisi.   "Kapan anak itu bisa sopan sama kamu? Itu semua hanya masa lalu, kenapa dia enggak bisa berdamai, dia terlalu lama memendam kebencian itu hanya akan jadi penyakit."   Sandra mengelus punggung suaminya. "Aku yakin, suatu saat nanti Angel pasti bisa menerimaku, Vanessa, dan juga Alvin, ini hanya masalah waktu, lukanya masih menganga dan akan ada waktunya luka itu kering dan sembuh. Kita hanya perlu sabar dan jangan terlalu keras sama dia."   Alvin yang baru meneguk susunya, lantas menatap sang mama. "Memangnya kesalahan apa yang Mama perbuat sampai Kak Angel begitu membenci kita?"   Andri langsung mengajak putra bungsunya untuk segera berangkat sekolah. "Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti permasalahan orang dewasa. Lebih baik sekarang berangkat sekolah, ayo Papa antar." Ia langsung pamit kepada istrinya. "Papa berangkat ya."   "Aku juga langsung berangkat aja ya, Ma, mau cari cincin, kebetulan hari ini Azka shift siang," ujar Vanessa yang pamitan kepada sang mama.   ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD