"Mungkin itu yang kuinginkan," tantangku, membuka mataku dan menatapnya dengan mata merahku yang menuntut. Tidak ada rasa takut di dalam tatapanku, hanya ada ambisi dan keinginan untuk menguasai kegelapannya. "Aku tipe wanita yang egois, Vincent. Aku mau yang terbaik, dan saat ini... kamu adalah pereda nyeri terbaikku." Vincent tampak goyah. Kilatan emosi yang langka muncul di dasar matanya yang hitam pekat, meretakkan topeng ketidakpedulian yang selalu ia kenakan di depan publik. Ia membelai pipiku dengan punggung tangannya, sebuah gerakan yang teramat lembut untuk ukuran seorang pembunuh dan mata-mata bayangan. "kamu adalah iblis kecil yang memakai wajah malaikat, Lavinia. Alaric sangat bodoh karena berpikir dia bisa menjinakkanmu dengan kebaikan." "Dan Adrian lebih bodoh lagi kar

