Bab 11 : Keseriusan Hari.

2007 Words
Tidak menyangka, Daffin mempersilahkan Hari dan juga Safira untuk bergabung dimejanya. Tentu saja, Hari tidak menolak, sangat jarang sekali seorang Daffin dengan ramah membagi kursinya dengan siapapun, kecuali orang tertentu. Ini adalah kesempatan untuk Hari agar lebih dekat dan kerja sama bersama seorang Daffin Faaz terjalin baik. Hari memperkenalkan Safira kepada Daffin dan juga orang-orang yang akan duduk bersama dalam satu meja. Yang sebenarnya, semua orang sudah sama-sama saling mengenal. Namun, semua serempak bungkam, seolah baru pertama kali bertemu. Kecuali wanita itu, posisi duduknya sangat dekat dengan Daffin, ia bernama Zoya, ia mengaku sangat mengenal Safira dan juga Hari, bahkan dengan terang-terangan memuji sosok seorang Safira dengan begitu tulus. "Safira, perkenalkan. Ini adalah rekan bisnis kerja saya, Pak Daffin." ucap Hari pada Safira. "Pak Daffin, Ini Safira. Teman saya." ucap Hari pada Daffin. Saling mengenalkan keduanya. Daffin maupun Safira sama-sama bungkam, ada rasa canggung di antara mereka berdua. Degub jantung milik Safira terasa berpacu lebih cepat. Bingung, canggung apa yang harus Ia lakukan. "Safira." Ucapnya memperkenalkan diri dengan penuh keberanian, Safira mengulurkan tangannya hendak menyalami Daffin, memperkenalkan diri. Namun, dengan sengaja Daffin tidak membalas sama sekali uluran tangan Safira. Tangan Safira masih melayang di udara cukup lama. Ia menarik kembali tangannya, dan bersikap biasa saja, serta menampilkan senyum manis, untuk menutupi rasa malunya karena mendapatkan reapon yang tak baik dari Daffin. "Yasmin." ucap Yasmin tiba-tiba, lalu mengulurkan tangannya mengajak Safira bersalaman, Safira menerimanya. Kemudian berlanjut berkenalan dengan Hari. Kemudian, selanjutnya Safira bersalaman dengan Matheo, begitupun di lanjut dengan Hari juga. "Matheo." ucap Matheo dingin, memperkenalkan dirinya sendiri pada Safira dan juga Hari. "Saya Zoya. Saya sudah kenal dengan Safira, Dia ini penyanyi di Cafe Green Sky, tempat aku bekerja." ucap Zoya dengan senyum manisnya pada Safira dan juga Hari. Lalu, melanjutkan ucapannya, "Saya juga sudah kenal dengan Pak Hari, ia adalah pelanggan yang paling setia, terkenal sangat royal dan ramah." lanjut Zoya tak kalah memuji Hari. Tetap, Zoya bersalaman dengan Safira, dan juga Hari. "Oh, kalian mau tau nggak? Suara Safira itu bagus banget loh, keren pokoknya. Makanya, Saat pertama kali lihat dia tampil, tanpa fikir panjang, aku jadikan dia sebagai penyanyi tetap, dan semenjak ada Safira, setiap hari weekend, pasti keadaan Cafe akan penuh dan ramai tidak seperti hari biasa, bahkan sudah banyak penggemar rahasia." ucap Zoya terang-terangan memuji Safira panjang kali lebar. Saat mengatakan kata penggemar rahasia, manik mata Zoya menatap pada Hari. Safira hanya tersenyum, kala menanggapi pujian dari Zoya yang menurutnya berlebihan. "Zoya. Penggemar rahasia itu, salah satunya Aku." Hari mengakui bahwa dirinya tanpa rasa malu. Untuk apa malu kan? "Nggak jadi penggemar rahasia lagi dong, kalau udah terang-terangan ngaku." ucap Zoya pada Hari dengan candaan ringan. Hari yang mendapat jawaban dari Zoya memberikan tatapan penuh harap pada Safira. Seolah memberikan kode keras, bahwa perasaannya bukan sekedar penggemar rahasia saja. Namun, perasaan Hari lebih dari sekedar itu. Safira mendadak canggung. Ia menjadi salah tingkah bukan karena ucapan atau tatapan Hari. Melainkan, karena mendapatkan tatapan dari pria lain yang berada tak jauh darinya, yaitu Daffin, tatapannya begitu jelas mengintimidasi dirinya. Apakah dia cemburu? tanya Safira dalam hati, tapi sikap dia tadi itu sangat menyebalkan, sebenarnya apa maunya? lanjutnya penuh tanda tanya. Yasmin dan Matheo hanya terdiam, mereka berdua memandang ke arah Daffin dengan sorot matanya yang begitu tajam menatap ke arah Safira. Yasmin dan Matheo sama-sama mengerti, paham betul arti dari tatapan Daffin itu apa. "Hati-hati Pak Hari, jangan terlalu banyak berharap pada seseorang, apalagi baru saja mengenal orang tersebut. Bisa saja suatu saat ditinggalkan pergi jauh begitu saja, memberikan luka yang teramat dalam." ucapannya memang untuk Hari. Tapi, matanya mengarah tajam pada Safira, sengaja menyindir wanita yang pernah ada di masa lalunya. Safira spontan memandang sekilas Daffin saat mendengar ucapan tersebut. Apa maksudnya? Apakah sedang menyindirku? Safira menggigit bibir bawahnya, menahan geram. "Sepertinya, Pak Daffin sangat membenci seorang di masa lalu. Sehingga berpendapat seperti itu. Tapi, maaf Pak Daffin, kali ini saya sangat yakin dan juga berharap sekali pada wanita yang ada disampingku"." ucap Hari semakin terang-terangan di sertai dengan senyuman menggoda pada Safira yang memang ada disampingnya. Safira hanya bisa diam, menyimak. Begitupun dengan Matheo, Yasmin dan juga Zoya, yang hanya jadi penonton dari kedua pria yang sedang adu mulut. "Jangan terlalu yakin, itu semua hanya sebuah kebodohan, yang membuat mu akan menyesal seumur hidupmu." timpal Daffin lagi, merasa benar. Safira semakin tak karuan dengan pernyataan Hari dan juga Daffin. Suasana pesta sangat meriah dan romantis. Namun, untuk Safira, suasana saat ini sangat canggung dan menantang seolah sedang berada di medan perang. Ya, perang dingin antara Daffin dan dirinya. Akhirnya, cukup lama. Setelah perdebatan berakhir. Hari dan Safira pun dipersilahkan untuk duduk, dan bergabung bersama. Safira tepat saling berhadapan dengan Daffin yang di beri jarak oleh meja bundar besar dengan kapasitas enam orang. Hari berada di sisi kiri Safira, dan Matheo di sebelah kanan Safira. Sedangkan Daffin di apit oleh dua wanita, di sisi kiri ada Yasmin yang bersebelahan dengan Matheo. Di sisi kanan ada Zoya, seorang manager di sebuah Cafe tempat Safira bekerja, jarak duduk dengan Daffin sangatlah dekat. Seperti ada hubungan spesial. Kemarin dengan Yasmin, sekarang dengan Zoya, bahkan ada keduanya. besok wanita mana lagi? Umpat Safira dalam hatinya. Sajian yang harusnya menjadi santapan lezat didepannya pun berubah tidak berselera di lidah, rasa laparnya hilang seketika, Safira hanya mengaduk-aduk makanannya saja. Rasanya ingin segera pergi dari meja terkutuk ini. Obrolan pun berlanjut dengan banyak hal, seputar bisnis, hingga ke hal yang sensitif, yaitu soal masa lalu. Hari baru tau jika Daffin adalah teman dekat Mahendra sejak kuliah. Hari sedikit mengetahui tentang Mahendra yang pernah satu Universitas dengan Alexa, dan Alexa adalah teman satu kampus dengan Safira, berarti mereka semua pernah satu kampus. Namun, saat perkenalan tadi, semuanya seolah baru saja bertemu. Kenapa? Hari penuh tanda tanya merasa ada yang ditutup-tutupi di antara mereka semua, merasa ada yang janggal. "Saya boleh tanya Pak Daffin?" tanya Hari. Daffin mempersilahkan dengan menoleh ke arah Hari. "Maaf sebelumnya, Anda dan Safira pernah satu kampus? soalnya yang saya tahu, Safira adalah teman kuliah Alexa, dan Anda teman kuliah Mahendra. Sedangkan Alexa dan Mahendra dulu satu kampus?" tanya Hari penasaran pada Daffin, untuk memastikan kejanggalan dihatinya. Safira yang sedang minum pun tersedak akibat pertanyaan Hari yang tiba-tiba. Uhuk... Uhuk... Hari langsung repleks mengelus pundak Safira. agar sakit ditenggorokannya sedikit menghilang Safira terkejut untuk kesekian kalinya. Untung saja jantungnya tidak bermasalah, Jika terus menerus terkejut seperti ini, pasti akan terkena serangan jantung saat ini juga. Malam ini benar-benar menguras otak dan perasaan Safira. Meski hanya diam yang ia lakukan sejak tadi. "Mungkin saja. Tapi, Saya tidak pernah bertemu, dan tidak mengenali dia sama sekali." ucap Daffin santai namun tajam. Deg, membuat hati Safira merasakan sakit seketika. Rasanya benar-benar menyesakan d**a. Tak lama kemudian, Safira pun berdiri dari duduknya. "Maaf, aku mau ke toilet dulu ya." ucap Safira, yang sebenarnya tidak memerlukan izin dari siapapun, dengan cepat Safira melangkah menuju toilet, meninggalkan mereka semua. Dalam langkahnya, Mata Safira sudah memerah, bahkan sudah membendung cairan yang siap jatuh hanya dengan satu kedipan saja. Dalam toilet, Safira menatap dirinya di pantulan cermin wastapel. Air matanya jatuh membasahi pipinya yang di poles make-up tipis. Rasanya lebih sakit bertemu tetapi tidak di akui sama sekali, di banding menahan rindu selama ini, rasa sakit yang dirasakan selama ini tidak ada apa-apanya dibanding sekarang. Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama, Safira segera mengahapus jejak air mata dari wajahnya, menarik nafas panjang, mengumpulkan segala pertahanan agar siap mendapatkan kata demi kata yang akan dilontarkan oleh Daffin kemudian. Lalu, Safira keluar dari toliet. Ternyata Safira telah mendapati Hari sedang berdiri di sekitar lorong arah toilet, sepertinya memang menunggu Safira. Ada baiknya juga Hari ada disini. Jadi, Safira bisa menghindar dari Daffin. "Udah? " Tanya Hari selalu tersenyum. Safira mengangguk, ia merasa semakin tidak enak atas perlakuan Hari yang manis. Meski sederhana namun memberikan kesan tersendiri, yaitu, hanya menunggunya di depan toilet. "Aku pulang duluan ya? " ucap Safira, dua jam berada disini sudah cukup menguras hati, tidak ingin berlama-lama lagi di sini. bisa-bisa hatinya terkuras habis. "Aku anterin ya? " tawar Hari. Safira kali ini tidak menolak, ia mengangguk setuju diantarkan oleh Hari. Sebelumnya, Hari sudah berpamitan dengan Daffin dan yang lainnya yang ada dimeja tadi. Kemudian, terakhir Safira dan Hari berpamitan pada kedua mempelai pengantin. ... Hari ini, Safira senang sekali, Sinta sudah bisa kembali bekerja, hampir dua minggu tanpa Sinta, rasanya sungguh sepi. Safira rindu sekali cerewet Sinta yang seperti emak-emak rempong tapi membuat Safira terhibur. "Rumah loe, sekarang beda ya. Rapi, bersih, wangi lagi. Nggak kaya dulu, mirip kandang kambing juga bukan." ceplos Sinta tertawa puas, yang baru saja tiba dan kini sedang duduk di sova ala boss. Matanya menyapu keseluruh ruangan yang tampak berbeda di banding satu bulan yang lalu. Bahkan, tidak perlu pakai kepala bertanduk, segala nyeruduk pintu, atau acara tarik menarik kaya lomba tarik tambang. Kini, Sudah berbeda masuk dengan elegan, tanpa mengeluarkan keringat yang akan menghapus make-up tebalnya yang aduhai. Cie ellaaah... "Maksud loe? " ucap Safira sebal. Mengerlingkan kedua bola matanya. Lalu, Ia melanjutkan merias dirinya di cermin. "Nggak ada maksud sih." Sinta terkekeh. "Oh ya, gimana sama Hari? Ada perkembangbiakan antara hubungan loe sama dia?" lanjutnya. "Perkembangbiakan apa sih, emangnya lagi budidaya ayam negri, ngaco." jawab Safira ngegas. "Ya sama aja, ini bedanya, perkembangbiakan hubungan perasaan loe ke dia, ada kemajuan nggak, atau perasaan loe malah masih sama kaya dulu, kalau ibarat ayam nggak berkembangbiak berarti mendekati punah. Mungkin seperti perasaan loe yang udah hampir punah." timpal Sinta asal. "Ya, ya, ya. Terakhir dua hari yang lalu, ketemu sama Hari di pernikahan Alexa, terus dia juga nganterin aku pulang." Safira menjelaskan. "Itu aja? Kalian nggak berlanjut saling kontekan kah? " tanya Sinta seperti detektif atau seperti emak-emak yang sedang kepo kalau ada tetangga lagi berantem pura-pura nyapu di tengah malam lagi. "Sering, dia yang selalu ngontek duluan. Jarang aku balas. Malahan Malam ini, dia ngajak aku dinner, katanya mau bicara sesuatu." ucap Safira polos. "We. O. We. Wow... Ini sih perkembangbiakannya cepat banget, Ibarat telur ayam mulai menetas jadi anak ayam dalam waktu dua minggu, cie ellaaah. Terus loe jawab apa? " "Apaan si, heboh banget. Belum aku balas pesannya." jawab Safira santai. "Loe itu oon ya, Si Hari mau nembok loe itu. Balas Ok." ujar Sinta dengan nada memerintah. Safira bersikap acuh tak acuh, sudah tekadkan dalam hati, bahwa sejak awal Safira tidak tertarik sama sekali dengan Hari. Ia sudah mengabaikan Hari, harusnya jadi pertanda bahwa Safira menolak Hari secara halus. Tapi, kenyataannya dia terus saja berusaha. Membuat pertahanan hati Safira terkikis sedikit demi sedikit. Benar saja, Safira bahkan tidak membalas pesan dari Hari, tetap saja Hari datang seperti biasa, menjadi penonton paling depan dengan tatapan mata yang penuh semangat. Terlintas sekilas, ada perasaan tidak ingin mematahkan semangatnya. "Sinsin, aku pulang sama kamu ya? " ucap Safira keras, agar terdengar Hari yang sudah menunggunya sejak tadi, Safira sedang siap-siap untuk pulang. Sinta menengok ke arah Safira lalu kemudian ke arah Hari , mendapat tatapan mata dari Hari dengan artian memohon. "Maaf ya, Safir... Gue ada urusan." jawab Sinta, merasa keputusannya adalah benar agar Safira membuka matanya lebar-lebar, bahwa didepannya ada pria yang serius, siap memberikan hari-hari yang berwarna, kan namanya juga Hari, pastilah. "Nggak apa-apa aku ikut sama kamu, sampai urusan kamu selesai." ucap Safira tak menyerah. Awas ya loe Sinsin, kalo kali ini loe nolak, loe gue and, rutuk dalam hati Safira. "Nggak bisa, gue pulangnya besok Safira." jawab Sinta tak ingin kalah, dan tanpa menyerah begitunya saja. Ok, fiks. Loe gue end. batin Safira dengan memberikan tatapan tajam seakan siap membunuh Sinta. Sinta menyadari itu semua, Ia hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah, lalu tersenyum yang di buat-buat. "Aku siap mengantarkan kamu pulang, Safira." Ucap Hari akhir dari maksudnya. "Tuh... Safira ada yang mau nganterin loe pulang noh." teriak Sinta dengan sengaja. Dan akhirnya Safira mengiyakan juga, Lagi-lagi. Safira, Hari dan Sinta berjalan beriringan keluar dari Cafe, menuju tempat parkir. Langkah Safira terhenti saat melihat keberadaan Daffin yang sedang menyender di depan mobil miliknya sendiri, seperti sedang menunggu seseorang. Tatapan Daffin sangat tajam begitu melihat Safira yang berada di samping Hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD