Matheo berhasil memarkirkan mobilnya di depan sebuah Club malam, lalu ia cepat turun dan segera masuk ke dalam bangunan tersebut. Keadaan club tampak sudah sepi, para penghuni sudah bubar sejak lama sepertinya. Lalu sepasang bola mata milik Matheo menemukan Daffin dalam keadaan mabuk berat, sedang duduk menyender tidak berdaya di sovabad yang terbuat dari kulit asli, masih dengan memegang sebotol minuman laknat itu. Di dampingi oleh seorang lelaki dengan perawakan gendut tua memakai pakaian rapi berjas. Matheo menatap sahabatnya iba. Lalu Ia duduk di samping Daffin, ada rasa kecewa pada diri sendiri, hanya namanya saja Sahabat, tapi sebagai sahabat Ia telah gagal menjaganya. Matheo benar-benar tidak mengerti jalan fikiran Daffin seperti apa, apalagi semenjak bertemu kembali dengan Safira

