Seperti yang sudah aku perkirakan raut wajah orang kantor nampak canggung dan kurang menyukai kedatanganku bersama suamiku. Aku merasa sedikit tidak nyaman dengan kondisi ini. Sebab bagiku kisah romantis bukan untuk dipublikasikan melainkan untuk dinikmati bersama saat hanya berdua saja. Tapi kurasa pemikiranku dengan Leivh berbeda jika soal itu. Aku berpura-pura tidak peka terhadap situasi, dan melangkahkan kakiku dengan pasti. Bagiku attitude seseorang diukur dari seberapa percaya dirinya dia menjalani kehidupan ditengah banyaknya tekanan. Aku enggan menjadi pusat perhatian. Namun aku juga tak bisa mundur begitu saja dari atensi semua orang. Kejadiannya lebih parah ketika Leivh menyuruhku mewakilkan dirinya dalam rapat internal dan dirinya duduk disampingku dengan serius. Aku hanya diam

