Tidak ada jawaban, pria itu masih terdiam dengan tangannya yang masih pula menggenggam pergelangan tangan milikku. Perlukah dia memperlihatkan sikap ambigu seperti ini padaku ? kurasa tidak ada alasan yang masuk akal dia harus menggangguku dengan cara seperti ini. “Lepaskan..” sekali lagi aku berkata padanya tanpa perlu memandang matanya. Dan tentu saja dengan nada suara dinginku. Tapi bukan Grigorii namanya jika dia mendengarkan aku dalam sekali perkataan. Dia bebal. “Angkat kepalamu.” Dia berkata dengan intimidasi seolah aku adalah bawahannya. Dan aku sendiri juga tak ingin kalah padanya. “Kubilang lepaskan.” Kataku lagi kali ini lebih keras. Tanpa kuduga pria itu tiba-tiba menghentak tanganku dengan kasar. Dan lantas memegang bahuku dengan cukup keras. Berteriak seolah sedang keseta

