Dia berbalik dengan wajah yang semerah kepiting rebus. Salahnya sendiri yang tiba-tiba mengibarkan bendera perang disaat situasi dan suasana sedang dalam kebahagiaan. Kemudian Roselind yang sengaja kuhalangi beberapa saat lalu menarik karangan bunga dari tanganku dan melemparnya ke sembarang arah. Namun tetap tawanya tidak memudar meski Meisei sudah tidak lagi terlihat. “Itu lucu Aghta.. bagaimana kau bisa memikirkan argumen menakjubkan tadi ?” “Kau yang membuatku terlihat keren.” Sebelumnya aku sama sekali tidak terpikir untuk melawan Meisei, karena kurasa itu buang waktu dan juga tenaga. Namun entah mengapa ketika melihatnya yang sedemikian ambisius menjatuhkanku jiwaku yang menahan sabar memberontak untuk melawan. Tapi tentu saja, aku tidak pernah frontal dalam melawan. Aku ingin men

