Hasil tes DNA telah siap di meja kerjanya. Ustin yang menyodorkan berkas itu pada Grigorii, ditatapnya sang tuan dengan pandangan simpati. Wajahnya terlihat kuyu, dan ada beberapa kantung mata yang terlihat di wajahnya. Sepertinya mendengar fakta soal masa lalu yang disembunyikan Tuan George memberikan efek cukup besar bagi mentalnya. “Ini hasil tes DNA nya. Perlu saya bacakan untuk anda ?” Grigorii tidak menjawab, matanya yang sembab sepertinya mengatakan hal yang lebih daripada bibirnya yang tak berucap. “Aku akan membukanya nanti.” Dia mencubit pangkal hidungnya sendiri. Ustin kian dibuat khawatir. “Oh ya, saya juga ada kabar untuk anda.” Katanya, sebetulnya antara ingin dan tidak untuk menyampaikannya mengingat kondisi Grigorii sepertinya belum siap untuk menerima berita ini lagi.

