Aku menghabiskan waktuku untuk berdiam diri di kamar tidur yang telah Leivh tunjukan padaku. Banyak hal yang kini memenuhi kepalaku, juga spekulasi yang berterbangan bagai debu diudara. Namun semua membuyar ketika aku mendengar ada suara ketukan yang berasal dari jendela. Aku membawa tubuhku merapat, membuka tirainya pelan-pelan dan kutemukan seseorang disana. Dia berdiri dengan tangan yang dipenuhi dengan perhiasan yang dia buat seolah adalah buket bunga. Tak perlu menerka meski tak kulihat siapa dia. Tingkah absurd ini hanya dimiliki dia seorang. Dan aku tersenyum lagi karena dia. “Apa ini ?” aku bertanya karena tak yakin harus disebut karangan bunga atau setumpuk perhiasan. Siapa yang membawanya bukan perkara buatku. Yang dia bawa lebih menarik minat. Karena responku yang langsung men

