Setelah menempuh perjalanan beberapa lama akhirnya mobil yang memberikan tumpangan kepada Ana hampir tiba di mension milik Ethan, mobil hitam itu terlihat mulai memasuki pekarangan Mension.
"sorry banget nih jadi ngerepotin. gue sebenernya gak suka merasa utang budi," Tangan Ana terlihat mulai melepaskan seat belt, dan bersiap buat turun," tadi lo juga bilang habis ini lo berdua mau balik ke hotel kan? jadi, gimana kalo lo nginap disini aja," Ana melirik Doni dan Henry secara bergantian, menunggu jawaban dari kedua pria itu.
Doni terus menerus melihat ke kursi belakang, takut-takut bos nya itu marah jika Doni memutuskan sendiri. tapi, jika boleh Doni berpendapat tawaran Ana adalah hal yang bagus karena jujur saja dia sudah sangat lelah.
"Don. gimana, mau enggak? kok jadi tegangan sih, aneh banget," Ana melirik Henry di kursi belakang, "duhh karena asik ngobrol ngomong ama lo, gue jadi lupa kenalan sama Om nya," ucap Ana sembari mengulurkan tangannya ke arah Henry. sedangkan Doni sendiri sudah membelalakkan mata tidak percaya, bagaimana bisa nona nya ini memanggil bos nya dengan panggilan Om, ini luar biasa.
"Om, kenalin Fayana Carys panggil saja Ana," dengan mata yang masih mengernyit Henry menjabat tangan Ana.
Ana melirik tangan nya yang dijabat oleh Henry, tapi Ana malah melihat Henry menatap Ana dengan pandangan yang sulit diartikan.
"duh Sorry om, namanya siapa?" tanya ana lagi dengan gerakan tubuh yang berusaha melepaskan cengkraman tangan Henry dari tangannya.
ouh anjir ni om-om mata keranjang, duh Mala.. princess disentuh om-om ini. tolongin napa? teriak Ana dalam hati, nama Mala terus menerus disebut nya berharap gadis itu mendengarkan suara hari kecilnya, Ana jadi nyesal baik huaaaaa menangis di dalam hati adalah kegiatan yang dilakukan Ana saat ini.
"ehemm, jadi gimana bos?" tanya Doni memecah kecanggungan karena dia melihat raut muka Ana yang sudah berubah tidak mengenakkan untuk dipandang.
"terserah," balas Henry datar, dia menarik tangannya dari genggaman Ana.
Di dalam hatinya Henry sudah sangat menahan kesal, bagaimana bisa Ana mempertanyakan namanya? Apa gadis itu tidak mengenalinya lagi atau hanya berakting untuk mendapatkan perhatiannya seperti yang selama ini selalu dia lakukan.
Sepertinya asumsi kedua Henry lebih masuk diakal pikirnya. karena jika anak itu tidak mengenalinya lagi, bagaimana bisa? sedangkan didalam perjalanan Ana tidak ada riwayat terbentur kepala yang dapat mengakibatkan amnesia.
sedangkan disisi Ana sendiri dia benar-benar bergidik ngeri melihat bosnya Doni di kursi belakang. dingin, tidak tersentuh, dan yang terpenting mata keranjang Ana tidak suka tipikal bos seperti bosnya Doni ini. menurut nya laki-laki itu terlalu Arogan dan menjijikkan.
Ana turun terlebih dahulu diiringi oleh Doni yang membukakan pintu untuk Henry, beberapa detik kemudian mata Doni terbelalak, tubuhnya menegang setelah mendengar apa yang dibisikkan oleh gadis bosnya itu.
bos lo mata keranjang gue jijik liatnya, mending lo cepat-cepat resign sebelum jadi gila itulah kira-kira yang dibisikkan Ana.
Sebenarnya bukan masalah kata-katanya, tapi karena dia meratapi nasibnya setelah ini. entah jadi apa dirinya setelah ini ditangan bosnya itu, pasti dia dituduh menggoda gadis bosnya itu dan dia akan dikirim ke Antartika oleh bosnya.
Ana berjalan masuk begitu saja, sembari memberikan kode kepada salah satu bodyguard yang berjaga didekat mereka untuk mempersilahkan tamu masuk.
"Besok lo urus cabang di Afrika Don, jangan kembali sebelum gue minta," Henry ikut berjalan meninggalkan doni yang sedang merutuki kesalahan nya dari tadi.
"mampus kan lo Don." monolog Doni pada dirinya sendiri, mengacak pelan rambutnya dan kemudian mengekori Henry dan Ana yang berjalan beriringan.
seorang pria paruh baya datang menemui mereka, sedikit menunduk dan mengambil tas selempang yang Ana gunakan untuk membantu membawakan nya, "selamat datang Nona, Tuan." ucap pria tersebut.
"Dia tamuku, suguhkan teh hangat dan setelah itu antar mereka ke kamar tamu." kepala pelayan itu mengangguk sembari menggerakan satu jarinya tanda perintah kepada bawahannya.
"Pak Han dimana Kak Ethan," tanya Ana penuh wibawa. segala gerak-gerik Ana tidak luput dari pandangan Henry, gadisnya semakin dewasa dan dia suka perubahan itu.
tampa Henry ketahui bahwa bukan hanya sikap dan sifat Ana yang berubah, bahkan jiwa dan perasaannya sudah berubah. apakah Henry masih akan menyukainya setelah mengetahui kenyataan itu? entahlah!
pak Han mengatakan jika Ethan sedang berada di ruang kerjanya, Ana mengangguk kemudian pamit undurkan diri dari Henry dan Doni.
~~~~~~~~~~~~~~
Ana berjalan mengekori pak Han yang sedang menunjukkan jalannya. Ana memang jarang sekali datang ke mension Ethan, jika dihitung-hitung kedatangan kesini mungkin tidak lebih dari Lima kali. tapi meskipun begitu, para penjaga dan pelayanan tahu jika Ana adalah adik sepupu kesayangan tuan muda mereka.
tok... tok... tok... pak han mengetok pintu terlebih dahulu, setelah diizinkan masuk baru pak han membukakan pintu untuk Ana.
"Kakak," cicit Ana, pemuda itu tampak terkejut melihat Ana berdiri dihadapannya sekarang. ini adalah kali pertama setelah kejadian satu tahun silam, dimana mereka bertengkar hebat di kantor Ethan dan membuat Ana mengatakan bahwa dia tidak akan pernah lagi menemui nya dan menganggap dia ada.
"silakan masuk nona, tas nya saya taruh disini. nona mau minum teh," suara pak Han membuyarkan lamunan Ethan, dia tersadar dan sedikit membereskan meja kerja. sedangkan Ana dia menggelengkan kepalanya tanda menolak tawaran pak Han.
pak Han sudah meninggalkan kedua bersaudara itu, Ana menatap Ethan lekat begitupun sebaliknya. didalam hatinya Ana merutuki kebodohan Ana yang asli karena lebih memilih tinggal bersama Henry dari pada kakaknya yang sangat menyayangi nya ini.
melihat Ethan secara langsung seperti ini, Ana mengingat Alden, abangnya. bagaimana keadaan Alden sekarang, apa dia sehat? apa dia juga akan gila kerja seperti kakak Ana sekarang ini? memikirkan kemungkinan yang ada membuat mata wajahnya memanas, dadanya terasa sesak, matanya berkaca-kaca sungguh Ana ingin menangis sekarang. dia rindu abang tampannya.
"ma.. maaf," ucap Ana lirih terbata, kakinya tiba-tiba terasa lemas. jika saja Ethan tidak sigap untuk memeluknya, maka bisa dipastikan saat ini Ana sudah luruh bersimpuh di lantai.
"it's okey hemm. ada apa? jangan menangis Ana?" Ethan yang berusaha menenangkan adik sepupunya itu perasaannya berkecamuk. pikirannya menjadi kemana-mana? kenapa ana menangis? apa Henry memukuli nya? serta banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang tersimpan dipikiran Ethan.
Dengan kedatangan Ana secara tiba-tiba sudah membuat nya cukup bingung, ditambah dengan Ana yang menangis seperti ini membuat Ethan mengeram memikirkan kemungkinan terburuk nya, Henry memperkosa Ana? itulah yang dia pikirkan.
"Maafkan Ana kak, ma.. maafkan ana yang bodoh. maaf," Ana semakin menangis sejadi-jadinya, pelukannya ditubuh Ethan semakin mengencang, membuat Ethan menjadi semakin gelagapan dan kebingungan.
"shutt... tenanglah Ana. jangan menangis, tenangkan diri kamu, lalu cerita dengan kakak. ada apa sebenarnya?" Ana menggeleng, Ethan semakin bingung dibuatnya.
Karena tidak ingin melihat ana lelah berdiri Ethan memutuskan untuk menggendong Ana ala bridal style, kemudian dia mendudukan tubuhnya di kursi jok yang ada di ruang kerjanya itu dengan ana yang masih di pangkuannya.
Ethan membiarkan Ana menangis di pangkuannya untuk beberapa saat, menunggu tangis Ana reda dan baru menginterogasi nya. jika saja benar Henry melakukan apa yang dia pikirkan, awas saja Ethan tidak akan segan-segan untuk memberi pelajaran secara semestinya kepada sahabat kakaknya itu.
-continue-