Dua bulan berlalu setelah kejadian tanya jawab yang menegangkan antara Viona dan bi Mona, dari tanya jawab itu Viona benar-benar terkejut setelah mengetahui fakta bahwa tubuh yang di gunakan nya bukanlah tubuhnya melainkan milik orang lain.
Fayana Carys Seraphine itulah nama gadis yang tubuhnya ditempati oleh Viona, dia bisa dipanggil Ana. kehidupan nya tidak terlalu buruk menurut Viona, hanya saja Fayana ini tidak pandai bersyukur.
jika di segi harta Viona akui, kekayaan nya yang sebagai seorang bangsawan jauh di atas Fayana. tapi gadis ini bukanlah orang miskin, apalagi sampai harus bersusah payah mencari uang itu sangat tidak perlu.
Fayana merupakan putri tunggal dari salah satu pengusaha tambang batu bara di Asia Romlan Jaksana, mamanya sudah meninggal 3 tahun yang lalu. saat itu usianya masih 16 tahun, usia yang tergolong muda memang tapi itu tidak sebanding dengan Viona yang sudah ditinggal kedua orang tuanya dari kecil.
sebulan setelah mamanya meninggal, ayah Fayana menikah lagi dengan seorang janda yang memiliki satu orang putri.
Sebagai seorang putri yang baru ditinggalkan mamanya, tentu saja Fayana menolak keras keputusan ayahnya itu. tapi sang ayah tidak peduli, pernikahan masih terus berjalan sesuai rencana sang ayah.
Meski Fayana tidak setuju dengan pernikahan itu, Fayana masih bertahan di rumah itu demi sang ayah. namun perlahan-lahan Fayana menyadari bahwa itu tidak sesederhana yang dia pikirkan.
Istri baru sang ayah Mariatih Arika mulai semena-mena dirumah itu, pergi berfoya-foya ketika sang ayah sedang keluar kota mengurus pekerjaan. begitupun dengan putrinya Amanda Fadillah, baik di rumah maupun di sekolah Manda sering memfitnah Fayana hingga dia dicap sebagai cewek jahat yang tidak punya hati.
Karena Maria dan Manda suka foya-foya keuangan tidak teratur dan terarah, sang ayah menjadi gampang marah dan selalu sarkas kepada Fayana. semua yang Fayana lakukan, apa pun yang Fayana beli diperhitungkan sedemikian rupa.
rubah licik licik itu selalu bisa berpura-pura menasehati Fayana didepan sang ayah, sedangkan dia dan putrinya sendiri sama sekali tidak ditegur oleh sang ayah.
Fayana sendiri merupakan anak yang sering dimanjakan sejak kecil, dia tidak pernah dimarah apa lagi sampai dipukul. tapi hari itu sang ayah menurunkan tangannya dan menampar pipi mulus Fayana.
Hal itu membuat Fayana menangis sejadi-jadinya, dia melampiaskan segala amarahnya. mengadukan segala perilaku Maria dan Manda dangan air mata yang berderai dan napas memburu. tapi tentu saja Romlan tidak menggubris apa yang dikatakan Fayana. setelah kejadian itu, Ana memutuskan untuk tinggal bersama kakek dan neneknya, dan Romlan tentu saja mendapatkan ganjaran yang sepadan dari sang papa.
karena perusahaan yang dijalankan Romlan merupakan perusahaan keluarga, kakek Ana menurunkan jabatan Romlan dan memotong gajinya 1/3 dengan alasan biaya hidup Ana. bukan karena mereka tak sanggup membiayai tapi agar Romlan masih bertanggung jawab terhadap putrinya.
Disekolah Ana masih kerap kali di fitnah Manda, dan berakhir dengan dia yang dibully oleh teman-teman kelasnya. karena tidak tahan akhirnya Ana meminta kepada kakeknya untuk sekolah di Rusia, tinggal bersama sepupunya Ethan Raksa Pratama.
Ethan adalah anak dari adik sang ayah. Ethan berkuliah sembari membangun perusahaan nya sendiri di Rusia. kakeknya Ana mengizinkan dengan syarat Ana mau membangun bisnisnya sendiri di sana.
Dengan bantuan sang kakek dan Ethan hanya dalam waktu satu tahun Ana berhasil mengembangkan butiknya dan melebarkan sayapnya ke berbagai negara dengan brand nya sendiri yang bernama CRyS. termasuk pakaian-pakaian Viona juga banyak yang menggunakan brand CRyS. tapi dengan berhasil nya Ana, berakhir pula umur sang kakek.
Kakek ana meninggal dunia, dan perusahaan jatuh ke tangan ayah Ana. mendengar kabar itu Ana depresi dia menginginkan perusahaan itu, bukan karena dia tamak, bukan!.
Tapi ana menginginkan itu karena dia tidak bisa melihat kerja keras kakeknya lenyap dimakan waktu, Ana sudah bisa menebak akhir dari perusahaan itu yang akan tenggelam jika dijalankan oleh sang ayah.
Ayahnya tidak bodoh, tapi ayahnya terlalu polos hingga terlalu mudah dihasut dan termakan omongan orang lain. itu adalah kelemahan terburuk dari seorang pengusaha, tidak berpendirian.
Ana dan Ethan berusaha keras mengembalikan perusahaan itu ke tangan Ana, sudah sepertiga mereka dapatkan. tapi semuanya berhenti setelah Ana jatuh cinta kepada orang yang salah.
Ana mencintai sahabat Ethan, Henry Dexter seorang pengusaha properti terbesar di mancanegara, "Huftt." Viona menghembuskan napas kasar, Henry Dexter. dia tahu pria itu, Henry pernah mengisi acara meet with businessman di kampus nya dulu.
"miris banget sih lo Na. gue yang hanya melihat kenangan masa lalu lo aja meringis. apa lagi lo yang jalanin. lagian lo kenapa sih Ana bodoh banget, udah jelas-jelas ada Ethan yang membantu lo, lo malah ngejar-ngejar makhluk astral." gumam Viona miris.
diingatan Fayana, Henry tidak mencintai nya sama sekali. hal itu membuat Ana semakin frustasi dan selalu mencari perhatian pada Henry, alhasil Ana selalu mendapatkan tatapan sinis dan jijik dari Henry.
Lambat laun Ethan pun menyerah dan seakan tak peduli lagi kepada Ana. memang dasar Fayana nya saja yang tidak bersyukur, coba kalo dia menghargai apa yang ada disekitar dia, mencintai yang sudah dia miliki, semua tidak akan sekacau ini.
Fokus Ana benar-benar teralihkan oleh kegilaan dan obsesi nya untuk memiliki Henry, hingga dia lupa akan tujuannya merebut alih perusahaan sang kakek dari tangan sang ayah.
*mulai sekarang Viona kita panggil ana dulu yah biar gak bingung *
"bosan." Ana menyedot minuman teh kotak asli Indonesia yang dia temukan di dalam kulkas tadi. otaknya lelah memikirkan tentang kehidupan Ana yang akan menjadi kehidupan nya nanti.
"gue ngapain dah sekarang, gue kangen Mala." mata ana mulai berkaca-kaca, Ana mengingat bagaimana kegilaan nya dulu ketika dia masih di raga aslinya.
"biasanya Mala pasti ngajak gue gila, ngajak gue jadi Dj dadakan. aghhh lo si Mal, enak bener doa'in gue meninggoy mulu, kejadian kan akhirnya. tapi ngomong-ngomong raga gue masih hidup apa udah inalillahi yah." Ana mengacak-acak rambutnya frustasi, "tau ahh, bodoh amat." bi Mona menghela napas berat dibalik pintu kamar Ana yang terbuka sedikit.
Mona tidak tahu apa penyebab Nona mudanya itu berubah selama dua bulan terakhir ini, Mona juga selalu memberikan laporan kepada Henry tentang keanehan Nona mudanya setelah malam itu.
"Kayaknya gue harus lakuin sesuatu, gue harus bergerak dari sini. lagian gue udah kayak hewan aja dikandang mulu." monolognya, bahunya bergidik ngeri membayangkan dia yang keluar dari apartemen ini dan bertemu dengan orang-orang yang tidak dia kenal.
"ini gue harus pura-pura jadi Ana apa enggak yah? gue gak bisa kalo harus pura-pura ramah anjirr, muka gue gak mendukung sama sekali ini." ringis Ana sembari menjatuhkan tubuhnya di kasur dengan telungkup.
"kayaknya sebelum keluar gue harus membuat gebrakan yang wow deh." Ana mengetuk-ngetuk handphone nya yang berlogo apel digigit, otaknya berpikir keras tentang apa yang bakal dia lakukan kedepannya.
setelah berfikir cukup lama Ana memutuskan untuk menjadi dirinya sendiri layaknya dia ketika menjadi Viona. Karena untuk sikap dan sifat dia memang tidak bisa untuk membuat-buat apa lagi berpura-pura.
Biarkan saja orang berasumsi sendiri tentang perubahan nya nanti, yang terpenting adalah kenyamanan dirinya sendiri. toh Raga Ana memang sudah menjadi milik Viona sekarang.
-continue-