Saat Vanya berjalan melewati pilar marmer besar, tiba-tiba, sebuah tangan besar dengan sarung tangan hitam membekam mulutnya dari belakang. Genggaman itu kuat, menekan keras. Vanya terkejut, matanya melebar karena syok. Dia mencoba berteriak, tetapi yang keluar hanya suara teredam yang menyakitkan. Tubuhnya ditarik paksa ke belakang. Punggungnya menghantam d*da yang keras. Vanya meronta, kakinya menendang udara. Dia mencoba menggigit tangan yang membekam mulutnya, tetapi sarung tangan itu tebal. Pandangan Vanya tertuju lurus ke depan, ke arah Julian. Julian berdiri hanya beberapa meter darinya, punggungnya menghadap Vanya, asyik tertawa kecil bersama Richard.bJulian, suaminya, tidak menyadari bahaya yang mengintai di belakangnya. Vanya terus meronta. Dia berusaha melepaskan diri dari ce

