Julian membalik tubuh Vanya, menekannya ke dinding shower. "Kau benar-benar membuatku gila," Julian bergumam, bibirnya berjarak satu inci dari telinga Vanya. Julian membiarkan sentuhan air itu membasuh mereka, mengalir di antara tubuh mereka yang saling bertautan, sementara ia menyerahkan diri pada keintiman yang ia tolak sepanjang hari. Mereka berdua tenggelam dalam lautan gairah yang diciptakan oleh rasa takut, cinta, dan janji yang baru saja terucapkan. Malam itu, di bawah guyuran air, Julian tidak lagi memikirkan Papanya, Isabella, atau penembakan itu. Yang ada hanyalah Vanya. 'Gila, Vanya benar-benar membuatku menggila. Ini nikmat, sungguh. Aku tidak bisa berhenti,' batin Julian dengan erangan hebat. Ci*man Julian berubah menjadi sesuatu yang liar, putus asa, dan tak terkendali. D

