Julian tertawa, tawa pendek dan kejam. “Kau pikir itu ancaman, Vanya? Jika kau berbicara, kau akan menandatangani surat kematian mereka. Dan percayalah, aku akan memastikan mereka menderita, perlahan. Kau tahu aku mampu melakukannya.” Vanya ambruk. Lututnya lemas, dan ia mundur selangkah, menutupi mulutnya agar isaknya tidak terdengar terlalu keras. Ia terperangkap. Penuh. Richard benar, ia adalah aset yang dibutuhkan, dan Julian tidak akan pernah melepaskannya. Melihat Vanya menangis, Julian merasakan gelombang kemarahan dan frustrasi yang familiar. Ia benci melihat kelemahan, tetapi ia lebih benci lagi bahwa kelemahan itu berasal dari tindakannya sendiri. Ia melangkah maju, meraih pergelangan tangan Vanya dengan keras, menariknya ke arahnya. “Berhenti menangis, Vanya!” raungnya memben

