Di kantor. Dirga sudah uring-uringan sejak dari semalam hingga siang ini. Kepala-nya terasa ingin pecah, bila terus memikirkan semua yang sudah ia katakan semalam kepada omah-nya. “Arghh….,” teriak Dirga begitu frustasi, sambil menyugar rambutnya. Ia nampak gelisah dan tidak focus dengan pekerjaan di hadapannya. Aryan yang sedari tadi nampak memperhatikan ada yang janggal dengan bos-nya, langsung menghentikan aktivitasnya. “Hei, ada apa denganmu, Tuan? Apakah yang sedang terjadi denganmu?” Dirga menoleh ke arah asisten-nya dengan tatapan malas. Ia khawatir jika asisten-nya tersebut akan menertawakan tindakan bodohnya. Tidak habis pikir, bisa-bisanya ia sampai menyebut nama Intan Maharani yang statusnya seorang janda sebagai kekasihnya pada sang nenek. “Bukan urusanmu!” semprotnya kesal

