Intan mematut diri di depan cermin, memandang penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Gelengan kepala seolah melukiskan kegalauan hatinya yang nampak tersipu malu membayangkan dirinya yang akan bertemu dengan omah Mega. “Waaah…., Ibu Intan sangat cantik sekali,” puji suster Dina, yang nampak memperhatikan penampilan majikannya dengan kagum. Intan nampak tersipu malu dengan kedua pipinya merona kemerahan. “Ah, biasa saja kok, Sus.” Suster Dina menggeleng kuat, jika apa yang diucapkannya sungguh-sungguh. “Nggak, Buk. Ibu Intan memang sangat cantik sekali. Saya saja kagum lihatnya, apa lagi kaum Adam, Buk. Hanya orang buta saja yang tidak bisa melihat kecantikan dan kebaikan Ibu Intan.” Raut wajah Intan berubah sendu, ketika kata-kata pengasuhnya sedikit menyentil perasaann

