Bab 10

1416 Words
Naya sudah menelusuri banyak tempat, tapi masih belum mendapatkan lowongan pekerjaan. Gadis itu hampir merasa putus asa. Apakah ini artinya ia pakai saja uang yang Nathan beri? Tapi bagaimana jika harga dirinya nanti diinjak-injak lagi. Tidak, Naya tidak akan memakai uang itu sepeser pun. Takut, jika nanti cowok itu akan mengungkit-ungkit uang yang telah diberikan. Gadis itu kini tengah berhenti sebentar di bangku taman untuk melepas penat. "Aku nggak boleh nyerah. Aku pasti akan dapat pekerjaan," lirih Naya menyemangati dirinya. Cepat atau lambat Naya pasti akan bercerai dari Nathan. Jadi, Naya harus mulai menabung banyak uang agar ketika bercerai dan pergi dari rumah Nathan nanti ia bisa mencari tempat tinggal baru. Membayangkan perceraian itu membuat Naya kepikiran ke mana ia akan pergi nanti. Ia tidak punya tujuan lagi, dirinya tidak punya sanak saudara. Naya kepikiran apa ia pindah saja dari kota yang penuh luka ini. Dengan begitu ia juga akan berhenti mendapatkan teror. Naya menghela napas gusar. Dari banyaknya ragam ujian yang diberikan Tuhan, kenapa ia ditakdirkan untuk menjadi manusia paling kesepian. Keluarga yang ia punya justru malah menginginkannya pergi. Disaat ia telah punya keluarga baru, tapi ia tidak dihargai. Bahkan suaminya sendiri hanya melihat saja ketika ia dibuli. Merasa penatnya sedikit berkurang Naya melanjutkan mencari pekerjaan. Wajah Naya langsung sumringah ketika melihat di depan sebuah butik ada papan pemberitahuan bahwa butik tersebut sedang mencari karyawan. Tanpa pikir panjang Naya langsung masuk ke butik tersebut. "Permisi, Kak. Saya baca di depan katanya butik ini lagi cari karyawan. Apakah lowongannya masih ada?" tanya Naya pada resepsionis di butik tersebut. "Masih, Kak. Kebetulan kami masih nyari karyawan. Jam kerjanya mulai dari pukul 9 pagi sampai sembilan malam. Kakak minat?" "Berarti nggak bisa part time, ya, Kak?" Wajah Naya langsung tertekuk lesu. Jika dirinya bekerja full time, lalu bagaimana dengan kuliahnya. "Naya, kamu nyari kerja?" seru seseorang di belakang Naya. Gadis itu berbalik badan, betapa kagetnya dia ketika melihat mama mertuanya ada dibutik tersebut. *** "Apakah Nathan tidak memberi kamu uang?" tanya Mama Naura yang kini berada di rumah Naya dan Nathan. Wanita itu tidak jadi berbelanja dan langsung mengajak menantunya pulang ketika melihatnya dibutik tadi. "Kak Nathan kasih, kok, Mah. Naya sendiri yang memutuskan untuk kerja tanpa sepengetahuan Kak Nathan. Naya mohon jangan beri tahu Kak Nathan tentang hal ini," ujar Naya, ia takut Nathan akan memarahinya. Tapi semua sudah terlambat. Nathan sudah tahu. Cowok itu berdiri di ambang pintu saat ini yang membuat mata Naya melotot kaget. "Mama, kenapa nggak bilang dulu kalau mau datang?" tanya Nathan basi-basi sambil berjalan mendekat. "Tadi mama lihat istri kamu lagi nyari kerja di butik. Kamu pasti tidak tahu hal ini karena kamu kurang perhatian sama istri kamu. Jangan-jangan selama ini kamu juga nggak kasih dia uang bulanan," tuduh Mama Naura. "Tega-teganya mama nuduh anak mama kayak gitu. Nathan kasih, kok. Kalau soal perhatian, mama kan tahu sekarang Nathan sibuk kerja di perusahaan Papa, belum lagi kuliah Nathan. Tapi Nathan janji kali ini akan lebih memperhatikan menantu mama," ucap Nathan manis, padahal di dalam hati kini ia tengah emosi. "Mama pegang ucapan terakhir kamu. Awas kalau sampai kamu nyakitin menantu Mama. Ngomong-ngomong, di rumah ini gak ada ART? Lalu selama ini yang bersihin rumah sebesar ini siapa?" Nathan tiba-tiba gelagapan. Tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin ia mengatakan Naya yang ia suruh membersihkan. "Nathan dan Naya masih nyari, Mah. Belum ketemu yang cocok. Mama kan tahu sendiri sekarang lagi banyak berita majikan dibunuh sama asisten rumah tangganya. Jadi, sebelum dapat pembantu Nathan dan Naya yang bersihin rumah." Cowok itu memang terlihat ahli dalam berbohong. Mama Naura menatap Nathan penuh selidik, seolah kurang percaya dengan perkataan putranya. "Apa yang dibilang Nathan itu benar, Naya?" "Be-benar, Mah." Naya juga terpaksa berbohong karena mendapat pelototan tajam dari Nathan. "Mama pengen lihat kamar kalian," tukas Mama Naura yang seketika membuat mata Nathan dan Naya terbelalak. Jika Mama tahu mereka pisah kamar maka urusannya akan semakin panjang. "Jangan, Mah. Kamar kita masih berantakan karena semalam .... Ah, Nathan nggak perlu cerita. Mama tahu sendirilah suami istri ngapain di kamar," celetuk Nathan sembarangan sehingga membuat Mama Naura tersenyum senang. Sedangkan Naya menjadi geli sendiri mendengar perkataan cowok itu. "Mama harap Naya segera hamil, supaya mama punya cucu." Wanita itu menangkup pipi Naya. Dari tatapan matanya terlihat jelas kalau dia sangat menyayangi menantunya itu. "Kamu jaga kesehatan, ya. Kalau Nathan nyakitin kamu bilang sama Mama. Mama nggak akan biarin menantu kesayangan mama ini disakitin," ucap Mama Naura. Dia bahkan lebih menyayangi menantu dari pada putranya. Mata Naya berkaca-kaca. Ia mana pernah mendapatkan perhatian selembut ini dari mana kandungnya, tetapi Tuhan memberinya mama mertua yang baik dan begitu peduli padanya. Tiba-tiba saja ponsel Mama Naura berdering. Dia mendapatkan telepon dari sekolah Rava—putra keduanya. Selesai berbicara dengan wali kelas Rava, wanita itu menutup panggilan lalu menghembuskan napas jengah. Kedua putranya benar-benar membuatnya lelah. "Kenapa, Mah?" tanya Nathan. "Adik kamu bikin ulah lagi di sekolah, Rava bertengkar sama kakak kelasnya. Mama dapat panggilan dari sekolah dia untuk ke sana sekarang." "Oh, iya Mah. Mama hati-hati dijalan." Nathan dan Naya mengantar Mama Naura keluar. Setelah mamanya pergi, Nathan menarik Naya ke dalam rumah. "Lo sengaja, 'kan mau bikin gue kena marah? Sengaja mau bikin gue dipandang buruk sama Mama? Apa uang yang gue kasih masih kurang? Lo butuh berapa? Jawab!" bentak Nathan emosi. "Ma—maaf, gue nggak bermaksud bikin lo kena marah. Gue sendiri yang mutusin buat kerja karena gue gak pengen nerima uang dari lo," balas Naya. Dia mengambil uang pemberian Nathan beberapa hari lalu dari dalam tasnya lalu mengembalikannya pada cowok itu. "Gue nggak mau harga diri gue terus diinjak-injak jika menerima uang dari lo. Perkataan lo waktu itu seolah-olah menganggap gue perempuan matre yang mau menerima pernikahan ini karena uang. Jika bisa memilih gue juga nggak mau terjebak dalam pernikahan ini. Lo yang udah bikin kita menikah. Andai waktu itu lo gak dorong dan nindih gue, nyokap lo gak akan salah paham. Yang lo bisa cuma nyalahin gue, tapi selama ini lo gak pernah sadar sama kesalahan lo. Lo benci sama gue karena gue nampar lo di apartemen dan bikin harga diri lo jatuh. Tanpa lo sadari yang lo lakuin ke gue lebih parah dari itu. Lo nuduh gue maling di hadapan banyak orang, gak mungkin dompet itu ada dengan sendirinya di dalam tas gue kalau bukan lo yang nyusun rencana. Semua orang anggap gue pencuri. Lo jadiin gue babu. Gue juga dibuli. Tapi selama ini gue hanya diam dan gak pernah berniat balas dendam ke lo ataupun keluarin kata-kata pedas," ujar Naya lalu tiba-tiba terisak. Hatinya terlampau sakit sehingga ia tak mampu lagi menahannya dan memilih mengungkapkan itu semua. "Jika lo masih sakit hati ke gue, lo boleh nampar gue balik. Gue nggak masalah jika dilukai secara fisik, dijadiin babu, dibuli, asal jangan injak-injak harga diri gue dengan semua tuduhan yang lo lempar ke gue. Perkataan lo menyakitkan, Nathan ...," ucap gadis itu sambil memukul-mukul dadanya, berharap bisa mengurangi rasa perih di dalamnya. "Gue nggak tahu kesalahan apa yang dilakuin kembaran gue ke lo. Tapi gue mohon jangan sakitin dia. Selama ini hidup dia sudah tidak bahagia karena gue. Lo balasin sakit hati lo ke gue aja. Biar gue yang menanggung kesalahannya. Gue akan terima penyiksaan yang lo kasih. Permintaan gue cuma satu, setelah lo merasa puas nyiksa gue nanti, tolong bebasin gue. Gue janji setelah itu nggak akan muncul lagi di hadapan lo. Gue juga akan berhenti kuliah seperti apa yang lo mau. Gue mohon ...." Melihat Nathan terdiam membeku dan tidak bereaksi apa-apa, serta tidak mau mengambil amplop berisi uang itu, Naya akhirnya meletakkan amplop itu di meja. Dia lalu berjalan ke kamarnya sambil berurai air mata. Namun, belum sampai di kamar Naya menghentikan langkah dan kembali menoleh ke arah Nathan. "Gue minta maaf karena bikin lo hampir dimarahin sama mama. Gue nggak akan cari kerja lagi. Gue juga nggak mau terima uang bulanan dari lo. Lagipun cepat atau lambat kita akan bercerai. Uang mahar dari lo lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan gue beberapa bulan ke depan sampai kita resmi bercerai. Lo juga gak perlu cari ART, biar gue yang lakuin tugas sebagai babu lo untuk beresin rumah ini. Mulai sekarang gue juga nggak akan banyak tanya tentang semua urusan lo. Sekali lagi maaf atas sikap gue selama ini," tutur Naya lalu melanjutkan langkah ke kamar. Entah sudah berapa kali gadis itu mengucapkan kata maaf, seolah dialah orang yang paling bersalah. Hal itu membuat Nathan tidak mampu membuka mulut, antara malu atas sikapnya sendiri atau memang tidak ingin mengakui kesalahan. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD