Bab 22: Harapan

1042 Words

"Makasih, Kak Zeil. Aku bener-bener khawatir soal gelang ini," ujar Mira sambil menerima gelang dari Zeil. Zeil mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan kegelisahannya. "Sama-sama, Mira. Hati-hati, ya. Kayaknya itu gelang penting." Mira tersenyum, "Iya, aku bakal lebih hati-hati. Terima kasih lagi, Kak." Zeil hanya bisa tersenyum kecil, pikirannya masih berputar. Saat Mira pergi, ia segera menghubungi ayahnya. “Pa, aku perlu bicara tentang sesuatu yang penting.” Sementara itu, di tempat lain, Raffa menunggu dengan sabar di ruangannya. Fina masuk, membawa berkas yang diminta. "Ini rekam medis Amira Putri Zalea, Dok," ujarnya sambil menyerahkan map itu. Raffa membuka map dan mulai membaca. Mata tajamnya menyapu setiap detail informasi. "Amira Putri Zalea...," gumamnya, memikirkan segal

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD