97

1201 Words

"Ayo mengucapkan selamat, lalu kita pulang." "Apa itu dibutuhkan?" tanyaku pada Adrian. "Tentu saja, saat dia gencar memamerkan kebahagiaan dan istri barunya, apa kau juga tidak boleh memamerkan kebahagiaanmu. "Tapi aku...." "Ayo ke sana," ucap Adrian menggandengku. Dengan santun aku mencoba melepaskan tangannya agar tidak menjadi fitnah, mengingat semua tamu undangan menatap kepada kami dan diri ini yang belum habis masa iddah. "Demi kebaikan kita jangan gandeng aku di hadapan semua orang." "Oh, maaf, aku lupa." "Terima kasih jika kau mengerti," bisikku sambil berjalan mengiringinya yang masih terus menggenggam tangan anak-anak. Anak-anak yang seolah menemukan tempat baru untuk melabuhkan segala perasaan dan kekecewaan mereka terhadap ayahnya nampak tak mau jauh-jauh dari Adrian

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD