"Sudahlah, sudah, ayo kita bawa koper ini ke dalam, ga enak dilihat tetangga, nanti dikira Ayah mau minggat." Ayah terkekeh pelan, dalam keadaan bersedih Ayah sempat membercandaiku. Aku hanya bisa mendorong benda itu dengan lesu. Sesudah kumasukkan koper itu ke kamar, aku kembali ke dapur untuk membuatkan kopi untuk ayah. Lelaki itu terlihat duduk di meja dapur sambil menghela nafas dan mengusap keringatnya. "Apa yang terjadi di rumah?" "Wanita itu ada di sana dan dia menyiapkan sarapan untuk anak-anakmu." Aku tertegun, nyaris saja air panas yang hendak kutuangkan ke dalam cangkir Ayah, tumpah ke telapak tanganku sendiri. Ya, wanita itu berhak ada di sana, dia istrinya Mas Widi. Terlepas dari apa penilaian ketua RT dan warga masyarakat sekitar, Dinda dan Mas Widi tidak akan memperd

