36

1116 Words

Usai memindahkan si jalang itu ke ruang perawatannya suamiku kembali. Melihat diriku yang lamat-lamat mulai mengantuk, ia tidak bicara, hanya perlahan mengambil kursi plastik dan duduk di dekatku. "Apa kau sudah menangani kekasihmu?" Dia tersentak saat aku bertanya. Lelaki itu tertawa tapi ia nampak sedih. Dia canggung antara harus berkata jujur ataukah dia harus menjaga perasaanku. "Sepertinya hanya aku istri yang peduli pada kekasih suaminya, dan sepertinya, hanya aku saja istri yang masih terus memaafkan dan menerima suaminya meski ia berkali-kali menyakiti." Mendengar aku mengkritik, dia hanya mendesah dan berusaha menyembunyikan malu. "Aku sempat ngeri saat kau bilang ingin menjaga jarak dan sudah tidak akan memperbaiki hubungan kita, aku sangat ketakutan dan benar-benar tidak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD