"Pulang jam berapa?" tanyaku saat aku menelpon lelaki itu. Aku merangkum segala kekuatan dan ketabahan di dalam hatiku untuk bersandiwara baik-baik saja demi orang tuaku. Lelaki yang ku tanya di seberang sana terdengar mendesah lega karena akhirnya aku mau mengajaknya bicara. "Aku senang kau menelpon, aku akan pulang begitu tugasku usai, pasien masih banyak, aku harus berkeliling," balasnya. "Orang tuaku mengundang makan malam, kita harus ke sana." "Oh, tentu, aku akan pulang sebelum magrib," jawabnya. "Baiklah." Begitu aku mematikan ponsel, aku tak kuasa menahan bibirku yang gemetar ingin menangis. Pertahananku bobol, aku lelah, pusing, tak bersemangat dan rasanya semuanya sudah berakhir. Bagaimana aku bisa berdiri dan memasang senyum paling indah sementara hatiku remuk redam dan

