84

1137 Words

Aku masih berdiri di ujung meja panjang dengan termenung sementara Pak Adrian berada di ujung yang satunya. Dia menghentikan aktivitasnya di atas tuts laptop, dia menunggu jawabanku. "Uhm, begini Pak, perbedaan kasta dan kelas di antara kita, saya yang sederhana, status saya yang masih belum jelas membuat isi kepalaku berputar dan bingung. Saya jadi bias antara mana yang nyata dan mana yang bercanda." "Aku sudah bilang ... Atau haruskah aku buktikan," ucapnya yang langsung bangun dari posisinya. Ia berdiri dan berjalan ke arahku sementara aku langsung gemetar dihampiri olehnya. Untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, tidak merasakan sensasi berdebar dihampiri seorang pria, aku jadi sangat gugup dan telapak tanganku langsung berkeringat dingin. Aku hanya menelan ludah dan terpaku di

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD