34

1209 Words

Ini Aku terkapar di atas tempat tidur dalam keadaan lemas. Aku yang terbaring di atas dua bantal yang menopang kepalaku bisa menatap pantulan diri ini di balik kaca rias. Wajahku kehilangan rona aku benar-benar pucat dan lemas, tubuh dan wajahku beraroma asam, lututku gemetar, lemas bukan main. Anak-anak yang baru pulang mengaji dari TPQ yang tidak jauh dari rumah datang menyambangiku ke kamar. Melihatku yang terbaring seperti itu mereka jadi khawatir, sementara aku yang menatap mereka dengan baju Koko dan mukena merasa tenteram hati dan perasaanku, perlahan hati ini berharap bahwa sampai nanti mereka tetap konsisten menjadi anak yang sholeh dan ahli ibadah. "Ada apa Bunda?" "Bunda demam." "Kok bisa." "Kena hujan," jawabku sekenanya. "Kok hujan, ini kan musim kemarau?" "Ah iya, juga

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD