75

1075 Words

Aku dan orang yang aku perlakukan dengan santai di Australia itu, kini makan siang dan saling berhadapan di sebuah restoran di lantai dasar gedung miliknya. Aku teringat kami membagi sama sepotong roti sandwich dan makan dengan santai sambil menatap gedung-gedung Opera house di Sidney. Sekarang situasinya berbeda sekali, aku canggung, aku bahkan sampai bisa menghitung suapan makananku ke mulut. Berbeda denganku, lelaki yang ada di hadapanku terlihat lebih santai dan lebih sering tersenyum. Dia menceritakan banyak hal tentang pekerjaannya kendala dan suka dukanya, sementara aku dan pikiranku lebih banyak menghafal dan merasa tertantang dengan tugas-tugas yang baru di hari esok. "Aku suka pakaianmu kau nampak elegan dan berkelas." "Terima kasih." "Kupikir kau akan datang dengan baju

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD