“Kak, Zahya ke taman dulu, ya.” Kalimatku membuat Kak Scarla menoleh. Dia menghentikan kegiatannya memasukkan baju ke lemari lantas berjalan mendekatiku. “Nah, gitu dong. Ke taman kayak biasanya.” Aku meringis mendengar ucapannya. Sejak mimpi itu—tepatnya tiga hari yang lalu—aku tidak lagi ke taman. Aku ingat di dalam mimpi, aku sedang duduk lalu semuanya berubah menjadi hamparan luas. Bukannya aku membayangkan taman yang hendak aku tuju berubah menjadi hamparan luas seperti di mimpi, tapi lebih kepada siapa yang ada di mimpi itu. Ya, Ahmar. “Ya sudah, Kak, Zahya pergi dulu, ya.” Usai berpamitan aku berjalan keluar. Sampai detik ini masih ingat dengan mimpi itu. Jika di depan Kak Scarla dan Rafif aku selalu berusaha biasa saja seolah sudah lupa dengan mimpi yang pernah kualami tapi saa

