Sebenarnya, sejak mobil yang dikendarainya melaju membelah padatnya jalanan, Orion sudah curiga pada Nao. Jadi, ia memilih menyambangi rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan perempuan itu tak banyak bicara. Matanya terpejam, jelas sekali dipaksakan karena berhasil mencetak kernyitan di dahi. Wajah istrinya pun pias. Namun setiap ditanya, Nao selalu menjawab bahwa semua baik-baik saja. Sampai di lobi rumah sakit, tubuh istrinya limbung. Nao sampai tak sanggup membuka mata karena pusing luar biasa. Dua orang menghampiri, membawa Nao ke sebuah ruangan, kemudian membaringkannya di atas ranjang. "Perkenalkan, saya Anisa, itu Belinda, dan terakhir Intan. Kami yang hari ini bertugas di sini. Ibu namanya siapa, Bu?" "Nao." Perempuan itu tak hanya bertanya ihwal tanggal lahir, usia kehamila

