Bibir Anka bergetar. Juga tangannya. Kepalanya tertunduk memandangi kedua kakinya yang terbungkus sepatu sekolah warna hitam. Ujung bibirnya masih mengeluarkan darah tanpa mau berhenti. Biarpun hanya merembes, tapi itu cukup sakit. Juga sebelah pipinya yang kena hantam tas mahal tantenya.
Jona pergi entah ke mana. Setelah berhasil menariknya keluar dari kelas dan dipandangi banyaknya pasang mata. Cowok itu membawanya ke belakang sekolah. Anka di dudukan di atas bangku panjang, tanpa berkata apa-apa cowok itu kemudian pergi.
Setengah badan Anka membungkuk sesekali satu tangannya yang terkepal memukul dadanya yang terasa sesak, sakit luar biasa. Bukan karena luka di sudut bibir dan pipinya yang berubah memar-memar. Tetapi kata-kata tantenya yang kasar dan kejam. Anka punya salah apa selama ini? Kalau tantenya bilang Anka adalah anak yang pemberontak, itu salah. Anka melakukan semua pekerjaan rumah tanpa ada yang ketinggalan satu pun.
“Anka ini murahan!”
“Kamu sengaja kan supaya Jafa nikahin kamu?”
“Kamu itu nggak sepadan sama anak saya yang sudah mapan! Kamu itu buruk rupa.”
Kata-kata tantenya itu terngiang-ngiang di telinganya sambil disaksikan teman-teman sekolahnya yang ia pastikan mereka mulai berasumsi masing-masing, mencoba menebak dari setiap kata-kata yang melucur dari mulut tantenya.
Andai saja ia mempunyai kekuatan untuk berteriak membela diri, pasti sudah ia lakukan. Ia tidak diperkosa! Tapi hampir!
Hampir lima belas menit berlalu. Anka mulai meredakan suara tangisnya. Hanya ada sisa-sisa isakan yang keluar dari bibirnya. Anka menegakkan tubuhnya berusaha menetralisir perasaannya yang sempat kacau. Marah, sedih, serta kecewa yang ia rasakan. Tantenya itu bukan orang lain. Wanita yang melabraknya tadi adalah adik kandung ibunya sendiri.
“Nih,” Jona datang menyodorkan kapas dan obat-obatan ke depan Anka.
Anka mendongakan kepalanya. Mata hitamnya yang kecil itu memandangi ekspresi wajah Jona yang biasa-biasa saja.
Tiba-tiba saja hatinya terasa diremas lagi, dan lagi. Anka menunduk. Berulangkali ia memaki dirinya sendiri karena tidak bisa menahan cairan hangat yang menumpuk di pelupuk matanya.
Seperdetik kemudian air matanya menyeruak keluar. Tangisnya pecah begitu mengingat teman-temannya di kelas memandanginya dengan tatapan mencemooh serta jijik. Bahu Anka bergetar keras, matanya terpejam berbarengan air matanya yang menetes deras.
Satu tangan Jona terulur ke depan. Dengan menggunakan ibu jarinya, Jona mengusap pipi basah Anka. Refleks, Anka menghantamkan kepalanya ke d**a cowok itu dan menangis kian keras.
***
Anka berangkat ke sekolah seperti pagi-pagi sebelumnya. Sejak Dirana tinggal bersama keluarga tantenya, Anka tinggal sendirian di kost. Makan sendiri, tidur sendiri, berangkat dan pulang sekolah sendirian. Anka menghela napas panjang, ia mengusap sebelah lengannya dengan satu tangan melewati koridor sekolah.
Tatapan-tatapan penghuni sekolah di sepanjang koridor membuat Anka menelan ludahnya. Ia melihat beberapa dari mereka memandanginya sambil berbisik dan tak jarang makian serta hinaan keluar ketika melihat Anka di sana.
“Murahan!”
“Ngaku-ngaku diperkosa cuma buat dapetin cowok yang disukain?”
“Masih punya muka dateng ke sekolah?”
Anka memutuskan untuk tidak menghiraukan ocehan teman-teman sekolahnya. Mereka tahu apa soal kejadian itu? Apa mereka-mereka ada di sana dan menyaksikan semuanya? Anka berteriak dalam hati. Ia mempercepat langkahnya menuju ke kelas sebelum telinganya semakin panas.
***
Bukan hanya hinaan dan makian yang didapat Anka di sekolah. Tapi teror dari teman-temannya. Entah siapa, dan yang mana orangnya. Kolong meja Anka penuh dengan gumpalan kertas yang isinya penuh dengan makian.
“Mati aja lo!”
“Cewek murahan!”
“Nggak tahu malu!”
“Gue jijik sama cewek kayak lo!”
Anka menekan satu tangannya di d**a. Ia menarik napas dan mengembuskannya dengan pelan. Ia menguatkan hati dan pikirannya untuk tidak terpengaruh dengan kertas-kertas itu.
Selesai membersihkan mejanya. Anka dikejutkan salah seorang temannya dari kelas sebelah. Cowok. Ganteng. Murid populer dan hobi gonta-ganti cewek hampir setiap hati. Menurut rumor yang beredar, cowok ini, PK!
Anka duduk dengan tenang di bangkunya tanpa menghiraukan tatapan cowok itu. Banyak cowok playboy di sekolah ini, tapi belum pernah ada yang mengalahkan aura cowok ini.
Tatapannya serius. Cowok itu datang menghampirinya bersama dua orang temannya—yang sama-sama berandal. Menurut rumor lain juga, cewek yang pacaran sama si cowok itu kebanyakan digilir sama temen-temennya itu. Anka merasakan bulu kuduknya merinding, ia memejamkan mata beberapa detik, lalu ia menghela napas.
Cowok itu tiba-tiba melompat dan duduk di meja Anka. Di kanan dan kiri sudah berdiri dua teman si cowok ini.
“Lo yang namanya Anka?” tanya cowok itu menundukkan kepala mengamati wajah tegang Anka.
Anka tidak menjawab.
“Uh... wajah lo kenapa biru-biru?” Anka menepis tangan cowok itu. Cowok itu pun terkekeh. “Cewek secantik lo dianggap buruk rupa? Ah, mata tuh Tante-Tante bermasalah kayaknya,” lalu disusulah tawa keras dua teman cowok itu.
Anka tidak menggubris. Segala ejekan, serta tawa ketiga orang cowok itu tidak ia pedulikan. Ia mengeluarkan isi dalam tasnya mengecek apa ada barangnya yang tertinggal karena ia kesiangan. Untung saja Gino keburu menelponnya, dan mengatakan kalau pagi ini Anka tidak perlu datang karena penghuni rumah tidak ada di rumah.
“Ar,” panggil salah satu teman cowok itu yang punya rambut setengah pelontos.
“Apa?” Cowok yang dipanggil 'Ar' itu menoleh ke arah temannya.
Dua orang muncul di ambang pintu seolah mereka adalah malaikat penolong Anka.
Anka menghela napas lega. Dirana berdiri sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang. Di samping cewek itu, ada Kamil, berandalan nomor satu di sekolah.
“Minggir! Minggir,” Kamil masuk lebih dulu mengusir ketiga cowok itu.
Kamil adalah musuh bebuyutan Arkan dan kedua temannya. Teman Arkan yang punya badan paling tinggi melotot ke arah Kamil seolah dia mempunyai banyak nyawa untuk menghadapi Kamil yang gilanya belum ada mengalahkan.
“Apa lo liat-liat?” Kamil menggebrak meja di sampingnya. “Punya nyawa berapa lo? Pulang lewat mana lo ntar?”
Arkan mendengus keras. Ia menarik dua temannya. “Cabut!” Kedua teman Arkan pun menurut dan segera keluar meninggalkan kelas Anka.
Dirana segera menghampiri Anka yang tampak kaku di mejanya. Dirana membungkuk lalu mendekap kedua bahu cewek itu. Dirana menatap Anka cemas, ia mendesah lalu memaki penghuni sekolah yang berkasak-kusuk soal Anka.
“Maafin gue ya, An. Gue bener-bener nggak tahu kalau kemaren Tante lo ke sini terus ngamuk-ngamuk. Wajah lo, wajah lo kenapa? Pasti ulah Tante lo ya, kan?” Dirana berbicara cepat tanpa memberi jeda sebentar saja. Ia menyentuh pipi Anka agak kasar karena terlalu refleks.
Anka meringis. Ia menyentuh pipinya memar. “Gue nggak apa-apa,” dari banyaknya pertanyaan yang keluar dari mulut Dirana, hanya dijawab satu kalimat oleh cewek itu.
Kamil melihat gumpalan kertas yang menumpuk di keranjang sampah. Ia berjalan ke arah keranjang itu dan memungut satu gumpalan kertas dan membacanya. Dahinya mengerut, satu alisnya yang tebal itu meninggi kemudian menatap Anka yang menggeleng lesu diserbu dengan pertanyaan-pertanyaan Dirana.
“Keterlaluan mereka,” Kamil meremas kertas di tangannya.
Dirana menoleh. “Kenapa lo?” tanya Dirana memiringkan kepalanya.
“Baca nih,” Kamil menyodorkan gumpalan kertas tersebut ke tangan Dirana.
Dirana membuka kertas itu lalu membacanya. Ia marah, membuang kertas itu ke lantai kemudian menginjaknya dengan kuat-kuat. Ia menggulung lengan seragamnya dan bersiap mengamuk pada mereka yang sudah meneror Anka dengan berbagai kata-kata yang tidak pantas.
“Umur masih muda tapi mulut ngalahin komentator lambe turah!”
Kamil bergidik geli mendengar kata-kata Dirana. Ia menepuk-nepuk bahu cewek itu menenangkan.
“Lo mau ke mana?” Anka beranjak dari kursinya menahan Dirana agar tidak pergi.
“Mau nampar mereka satu-satu,” kata Dirana marah. “Biar gue ajarin caranya ngerem mulut!”
“Nggak usah!”
“Lo jaga Anka. Jangan ke mana-mana sebelum gue balik!” perintah Dirana kepada Kamil, dan diangguki cowok itu.
To be continue---