“Lo tanya tadi di mana letak salah lo, kan? Lo bener pengin dengar di mana letak salah lo dari sudut pandang gue?” Tanya Miura balik, kini cukup berani bicara setelah Aya menuduhnya dengan semua yang juga sama membuat hatinya terluka. Aya mengangkat tanganya, memijat batang hidungnya yang terasa berdenyut. Wanita itu tersenyum, senyum sarkas berbalut miris. Tangisnya tentu tertahan sempurna, karena merasa apa yang didengarnya barusan menjadi hal paling menggelikan yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya. Sebenarnya Aya tidak tahu juga kenapa menanyakan semua hal tidak berguna ini pada dua orang yang bahkan secara tidak langsung sudah mengakui kesalahan mereka. Untuk lelucon, kan? Atau memang hanya untuk memenuhi rasa penasaran Aya saja. Sebab mendengarnya atau tidak pun Aya rasa Aya sud

