Novel_Santo_dan_Santi
Penulis Cerita: Jakaria
BAB 2: DALAM BAYANG KABUT YANG MEMANGGIL
Kabut tebal masih menggantung di udara ketika pagi menyapa Desa Lembayung dengan keengganan. Seolah matahari enggan menembus kegelapan yang membekas di rumah tua itu. Santo terbangun dengan tubuh menggigil, matanya kosong memandangi langit-langit kayu yang berderit setiap kali angin bertiup.
Di sebelahnya, Santi masih tertidur, wajahnya pucat namun tenang. Mereka berdua ditemukan tergeletak di depan rumah dini hari tadi oleh Pak Suro, kepala desa yang hanya bisa menggelengkan kepala sambil bergumam pelan tentang "dendam yang belum selesai."
Santo duduk perlahan, merasakan dingin yang merayap dari lantai menuju tulang-tulangnya. Bayangan malam sebelumnya masih segar di pikirannya—jeritan, lilin-lilin yang menyala sendiri, boneka kutukan, dan sosok bermata merah di balik jendela.
Ia menatap tangannya yang masih gemetar. Apa yang sebenarnya telah dibangkitkan oleh keluarganya? Kenapa kutukan itu terus menghantui meski generasi sudah berganti?
Suara pintu berderit membuyarkan lamunannya. Santi terbangun, menatap Santo dengan mata yang masih berkabut.
"Kita masih di sini?" suaranya lemah, seolah berada di antara mimpi dan kenyataan.
Santo mengangguk pelan. "Pak Suro yang menemukan kita. Dia membawakan makanan juga."
Santi mengerjap beberapa kali, mencoba mengingat apa yang terjadi. Namun yang muncul hanyalah potongan-potongan bayangan; nyanyian sunyi dari bawah tanah, boneka kayu dengan paku berkarat, dan tangan dingin yang mencengkeram pergelangan Santo.
"Boneka itu..." Santi berbisik, "apa yang terjadi padanya?"
Santo menggeleng. "Saat aku sadar, boneka itu sudah hancur. Tapi… rasanya semua ini belum berakhir."
Santi menggigit bibirnya, merasakan ketakutan yang mulai menjalar lagi. Ia meraih tangannya sendiri, mencoba menghangatkan tubuh yang sejak tadi terasa seperti es.
Mereka berdua diam sejenak, membiarkan kesunyian berbicara. Hanya suara angin yang menerobos celah-celah dinding tua dan derit kayu yang seolah mengeluh menahan beban masa lalu.
---
Pak Suro datang beberapa jam kemudian, membawa termos berisi teh hangat dan roti gandum. Wajahnya terlihat letih, matanya menyimpan kekhawatiran yang dalam.
"Kalian harus pergi dari sini," katanya tanpa basa-basi saat meletakkan termos di meja kayu reyot. "Rumah ini… bukan tempat yang bisa kalian lawan dengan keberanian saja."
Santo menatapnya, rahangnya mengeras. "Ini warisan keluargaku, Pak. Aku tidak bisa terus lari."
Pak Suro menghela napas panjang. "Kadang, ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan terkubur, Nak. Apa kau tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini?"
Santo terdiam, pandangannya berpindah ke Santi yang kini duduk memeluk lutut, tatapannya kosong ke luar jendela berkabut.
Pak Suro melanjutkan, "Nenek buyutmu… dialah yang memulai semua ini. Perjanjian dengan Nyai Ranti bukan sekadar cerita lama yang dibisikkan warga. Itu nyata, Santo. Darahmu… adalah kunci untuk membuka kembali gerbang yang seharusnya tidak pernah terbuka."
Nyai Ranti. Nama itu kembali menggema di telinga Santo. Nama yang selalu diceritakan ibunya dengan bisikan takut, namun tak pernah benar-benar dijelaskan.
"Apa sebenarnya yang dia inginkan?" Santo bertanya lirih.
Pak Suro menatapnya dalam-dalam, seolah sedang mempertimbangkan apakah Santo benar-benar siap mendengar jawaban itu.
"Dia ingin kembali," jawabnya akhirnya. "Dia ingin mengambil apa yang telah direnggut darinya—cinta, kehidupan… dan tubuh."
Santi menoleh, tubuhnya menegang. "Tubuh?"
Pak Suro mengangguk pelan. "Kutukan itu tidak akan berhenti sampai dia menemukan wadah yang cocok. Dan gadis-gadis dalam keluargamu… mereka selalu menjadi sasaran."
Santo merasakan jantungnya berdegup kencang. "Keluargaku? Santi…"
Pak Suro menggeleng. "Bukan dia. Nyai Ranti mencari darah keturunan yang telah mengkhianatinya. Dan kau, Santo… adalah penghubung antara dunia ini dan dirinya."
Sejenak, ruangan terasa lebih dingin daripada sebelumnya. Santi memegang lengan Santo, matanya dipenuhi kekhawatiran.
"Apa yang harus kita lakukan?" suaranya gemetar.
Pak Suro menghela napas berat. "Ada satu cara, tapi tidak mudah. Kau harus menyusuri kembali jejak masa lalu keluargamu. Temukan tempat di mana perjanjian itu dilakukan. Hanya dengan begitu kau bisa menghentikan Nyai Ranti untuk selamanya."
Santo terdiam, pikirannya berputar-putar. Menyusuri masa lalu berarti membuka luka-luka yang mungkin lebih kelam daripada apa pun yang pernah ia bayangkan.
Namun ia tahu—jika tidak melakukannya, tidak hanya hidupnya yang akan dihancurkan, tapi juga Santi.
---
Malam kembali turun dengan cepat, seolah waktu enggan memberikan ruang bagi mereka untuk bernapas. Kabut lebih tebal daripada biasanya, menyelimuti rumah seperti selimut kematian yang dingin dan lengket.
Santi duduk di sudut ruangan, memandangi cermin retak yang menggantung di dinding. Sejak siang tadi, ia merasa ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Setiap kali ia memandang cermin itu, bayangannya sendiri terlihat… berbeda. Ada sosok lain di belakangnya, berdiri diam, menatap dengan mata kosong. Semakin lama, sosok itu tampak semakin jelas—gaun lusuh, rambut panjang kusut, dan kulit pucat yang membusuk.
Santi menggigit bibir, menahan rasa takut yang merayap naik. Ia memalingkan wajah, tapi merasakan udara di sekitarnya berubah lebih dingin.
"Santi…" suara Santo terdengar dari belakang, memecah keheningan. "Kau baik-baik saja?"
Santi mengangguk tanpa menoleh, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
"Aku menemukan sesuatu," lanjut Santo, suaranya berat. "Di ruang bawah tanah… sebelum semuanya gelap, aku melihat simbol yang diukir di lantai. Simbol itu sama dengan yang ada di kalung nenekku."
Santi menoleh kali ini, tatapannya penuh tanya.
"Sebuah lingkaran dengan bunga melati di tengahnya," jelas Santo. "Aku rasa itu adalah tanda perjanjian."
Santi mengingat sesuatu—sebuah buku tua yang sempat ia lihat di perpustakaan desa tentang ritual kuno untuk ‘menyegel cinta’. Ritual yang konon dilakukan dengan mengorbankan sesuatu yang paling berharga.
"Santo…" Santi menggenggam tangannya. "Mungkin kita harus mencari tahu lebih banyak tentang Nyai Ranti. Tentang bagaimana perjanjian itu dilakukan."
Santo mengangguk, namun matanya menyiratkan kekhawatiran. "Aku takut, Santi. Bukan pada hantu atau kutukan… tapi pada apa yang mungkin harus kita korbankan untuk menghentikannya."
Santi tersenyum tipis, meski jantungnya berdegup kencang. "Apapun itu, kita akan melaluinya bersama."
Namun sebelum Santo sempat menjawab, angin dingin berhembus melalui celah jendela yang tertutup rapat. Cermin di dinding bergetar, mengeluarkan suara retakan halus. Bayangan gelap merayap perlahan di permukaannya, membentuk sosok wanita dengan mata kosong yang menatap mereka.
Santi menahan napas.
Santo merasakan bulu kuduknya berdiri.
Suara lirih terdengar dari cermin itu—suara yang dalam dan dingin, seperti berasal dari dasar tanah yang paling gelap.
"Aku menunggumu… Santo."
(Bersambung ke Bab 3)
PUISI:
PANGGILAN DARI BALIK KABUT
(Jakaria)
Kabut datang mengendap malam
Membawa bisikan sunyi nan kelam
Di antara desah dan desir yang dalam
Ada jiwa yang diam diam menyalam
Dalam pelukan pekat yang muram
Tersesat hati mencari salam
Namun suara di ujung dendam
Menuntun langkah tanpa terang
Sehelai doa mengiris kelam
Memecah sunyi memanggil salam
Tapi kabut kian menggenggam
Menyusupkan duka dalam setiap malam
Tersentuh angin menusuk dalam
Raga gemetar dalam diam
Namun cinta yang setia memendam
Takkan gentar walau karam
Bogor, 30 April 2025
Quote:
"Terkadang cinta yang suci pun harus menembus pekatnya jerat dunia yang tak kasat mata."
#Bab2KisahSantoSanti
#KabutMisteri
#KutukanNyaiRanti
#CintaDalamKegelapan
#RahasiaMasaLalu
#TerorKembali