"Prospek kalian kali ini gagal?" tanyaku, mengingat tampang kecut Danar tadi. Arin menoleh dan menggeleng. "Prospek gue nggak mungkin gagal, soalnya kan bareng Pak Danar." Dia nyengir. Lalu menarik beberapa berkas dan mulai membukanya. "Gue pikir gagal. Soalnya tampang Danar asem! Kayak Mangga setengah mateng." "Kan settingan dia memang seperti itu. Dingin-dingin gitu deh." Aku mengarahkan bola mata ke atas. Sekali bucin tetap saja bucin. Setelah menyelesaikan proposal permintaannya, aku segera menuju ke ruangan Danar agar dia bisa mengeceknya sebentar sebelum aku membuat janji pada bagian finansial. "Ada yang kurang engga?" tanyaku sedikit melongok, menatap proposal yang sedang dicek oleh Danar. "Anggaran buat sosial media nggak lo tambah?" Danar masih memperhatikan dokumen t

