"Kok kamu ngomongnya gitu?" tanya Tama dengan nada tak suka. "Kenapa? Omongan aku benar kan? Kita enggak bisa begini terus. Lebih baik kamu jauhi aku aja." Aku mengatakan kalimat itu dengan mata lurus menatap pintu lift di depanku. "Enggak, ini salah. Kamu nggak tau gimana aku menunggu momen ini. Momen bersama kamu. Aku yakin kamu juga sama kan?" Aku melepas napas kasar. "Tapi masalahnya kamu dan aku nggak bisa bersama. Kamu udah punya keluarga dan aku nggak pernah punya rencana buat jadi yang kedua." Emosiku buruk. Aku merasa punya lampiasan rasa kesal yang aku simpan untuk Giko. "Aku nggak pernah anggap kamu yang kedua, ya, Win," ujar Tama terdengar dalam. Suara baritonnya yang biasa terdengar lembut, kini berubah dingin. "Aku nggak mungkin melepasmu begitu saja setelah menemuk

