Davika memandang ponselnya. Dia mencebikkan bibirnya lalu menatap wajahnya di cermin. Lima hari ini Viko tak pernah lagi meneleponnya. Padahal dia sangat menantikan telepon dari pemuda itu. Davika ingin menelepon lebih dulu, namun dia takut Viko memang sedang sibuk di sana hingga tak sempat meneleponnya. Tapi, ketakutan timbul di hati Davika. Bagaimana kalau Viko hanya mempermainkannya? Davika menggeleng lalu mengambil bedaknya. Kebiasaan make-up Davika tak berubah dari dulu. Cukup dengan taburan bedak bubuk di wajahnya dan lipgloss untuk melembapkan bibirnya. Davika berdiri di depan cermin full body sembari memandang rambutnya yang terurai. Dia menggenggam beberapa helai rambutnya dan mengerutkan mulutnya. Davika memandang rambut krem-nya itu. Apa dia harus membiarkan warna rambutnya

