Chapter 15

1219 Words

Husna akhirnya melepaskan pelukannya. Dia menatap Rifan dengan pandangan sendu. “Maafin Una, Mas. Seharusnya Una gak egois.” Rifan tersenyum seraya mengusap air mata istrinya yang kembali keluar. “Mas ikhlas kok, Dek. Terima kasih sudah menerima dan percaya sama Mas.” “Terima kasih sudah sabar menghadapi Una, Mas.” “Sama-sama. Ayo kita belajar bersama, ya! Kita harus ingat, jika jodoh, rezeki, maut itu adalah keputusan Allah yang paling rahasia.” “Iya, Mas.” Saat mereka sedang saling memandang, ponsel Rifan berdering. Melihat siapa yang menghubungi, Rifan memberitahu kepada sang istri jika itu dari Fahmi. Mendengar nama kakak keduanya disebutkan, raut wajah Husna kembali suram, seperti tengah menahan kesal. “Ngapain sih bapak-bapak satu ini? E—eh, jangan diangkat!” Rifan mena

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD