Chapter 18

1381 Words

Husna kembali berpelukan erat dengan Zia seakan tidak ingin berpisah, sedangkan Rifan dan Husna harus segera masuk dan melakukan check-in ulang untuk mendapatkan boarding pass. Sebenarnya Fahmi maupun Ihsan bisa saja melakukannya lewat orang-orang kenalan mereka agar Rifan dan Husna bisa langsung masuk dan tinggal duduk di kursi pesawat saja. Namun, dasarnya Husna yang ingin melakukan semuanya serba sendiri (dibantu oleh suaminya) membuat mereka hanya bisa menerima dan mendukungnya. “Setelah sampai, jangan lupa langsung hubungi kami, ya, Ning,” ingat Zia yang entah sudah ke berapa kalinya. Husna mengangguk seraya tersenyum, meski keadaan matanya sudah sangat merah—karena menangis. “Iya, Mbak Zi. Salam buat ponakan aku ya, buat umi, abi dan semuanya.” “Iya insyaallah, Ning.” Melih

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD