"Papa...." Naresh mendengus dan berdecak. Baru saja dia selesaikan pekerjaannya, papanya sudah sibuk menyodorkannya gadis untuk dijadikan istri. "Kamu kan tidak punya waktu memikirkan ini." Naresh melirik foto itu sekilas. Akhyar menarik kembali ponselnya begitu tahu Naresh yang tampaknya tidak tertarik. "Aku fokus selesaikan sisa pekerjaan Idris, Pa. Nantilah kita bicarakan lagi." Naresh berusaha mengelak. Akhyar mengangguk tipis. Dia menoleh ke Trisna yang sibuk mengetik di laptopnya. "Tris. Hubungi aku jika ada yang menyinggung gadis sebelas ribu," ujar Akhyar dengan nada sedikit berseru. Dahi Naresh mengernyit. "Ok, Njid," Akhyar tepuk-tepuk bahu Naresh. "Papa ke ruangan Mas Nikomu. Kamu bekerjalah dengan semangat." *** Akhyar sudah tiba di kantor Niko. Ternyata di sana

