Clay kontan berdiri dari duduknya, menatap kepergian Naresh begitu saja tanpa mengucap sepatah katapun. Kemudian, Sammy ikut berdiri di sebelahnya. "Biar aku yang menjelaskan, kamu habiskan minumanmu dulu. Tenang saja." Sammy langsung melangkah cepat ke luar dari dapur, menuju ruang kerja Naresh. Sambil memegang dadanya yang tiba-tiba bergemuruh hebat, Clay duduk kembali. Dia lirik minumannya dan tidak meminumnya. Wajah bengis Naresh di depan pintu dapur terbayang di benaknya. Clay yakin Naresh pasti mencemburuinya. Dengan Bilal saja, yang jelas-jelas Clay sudah tidak punya perasaan apa-apa selain sebagai sahabat, Naresh tetap saja mencemburuinya. Clay seolah baru menyadari bahwa suaminya memang sangat pencemburu. Sammy memasuki kantor Naresh, akan tetapi dia tidak mendapatkannya, kem

