"Ya, karena aku datang lebih pagi, jadi ada banyak pekerjaan yang bisa aku selesaikan cepat." "Nggak dimarahin Naresh?" "Nggak. Dia kooperatif kok." Clay menundukkan pandangannya, dadanya berdesir senang saat nama Naresh disebut-sebut Bilal. Sedari pagi dia belum bertemu Naresh, Bu Trisna bilang Naresh ada jadwal rapat di Bintaro. "Oh. Baguslah. Hm ... dia semakin rajin aku liat." "Ya." "Katanya dia sudah punya calon istri, tapi dia nggak mau bilang. Aneh aja." Clay diam tidak mau menanggapi. "Dulu dia dikenalin sama gadis asal Dubai, tinggal di Kuala Lumpur." "Oh ya?" Clay raih botol minumannya dan meminumnya, mengusir keresahan. Naresh tidak pernah menceritakannya, mungkin karena memang selama ini tidak ada pembicaraan di antara mereka yang mengarah ke sana. "Namanya Manna.

