Matahari di minggu sore seolah ingin lebih cepat pulang dibanding hari-hari biasanya. Kinan mengamati pergerakan pusat tata surya itu dari balkon kontrakan. Ia sudah tak bisa lagi menangis. Hatinya patah berkeping-keping kini. Bahkan untuk meminta sebuah penjelasan pun rasanya ia enggan. Baginya, ketika seseorang memutuskan mengakhiri hubungan, itu berarti dia ingin melepaskan orang yang selama ini dia genggam. Tak butuh banyak alasan.
Namun, Kinan teringat upahnya yang belum dibayarkan selama tiga bulan. Setidaknya dia harus menagih itu pada Kavin, meminta haknya. Meski sebenarnya Kinan tak ingin lagi melihat wajah meneduhkan milik Kavin, tapi bayangan kemarahan Bu Cindy terus saja berkelebat dalam ingatannya. Apalagi memikirkan bagaimana ia harus mencari kontrakan yang harganya lebih murah di Ibukota. Sebenarnya bisa saja ia meminjam uang pada Tasya, namun dia tak ingin jadi benalu untuk sahabatnya. Belum lagi Ibu di desa yang akhir bulan ini harus segera dikirimkan uang. Pikirannya benar-benar dijejali hal-hal rumit seharian ini.
Seorang laki-laki dengan jaket hoodie hitam juga celana jeans yang sedikit sobek di bagian lutut, muncul dari bawah tangga. Hanya matanya yang terlihat dari balik topi hoodie. Wajahnya ditutupi masker dengan warna senada. Kinan tak menoleh. Dari langkahnya saja dia tahu siapa yang datang.
“Aku bawakan Ramen kesukaan kamu!” Diandra menyodorkan sebuah plastik berwarna putih dengan aroma yang menguar dari balik bungkusan. Biasanya Kinan akan menyambut dengan semringah. Dia akan jingkrak-jingkrak kegirangan sembari mengucap banyak terima kasih. Namun kali ini aroma dari kuah kari itu pun tidak bisa menghadirkan selera makannya.
“Makan dulu sana! Badan tinggal tulang dan kulit begitu!”
Kinan memukul kepala laki-laki di sampingnya sedikit keras. Diandra hanya mengaduh kesakitan sembari memegangi kepalanya.
“Aku sedang tak nafsu makan!”
“Seorang Kinan? Tidak ada nafsu makan? Ramen loh, ini. Biasanya tidak cukup satu. Jatahku saja hampir semua kamu yang habiskan.”
Kinan menggeleng pasti. Perutnya memang meronta minta diisi. Namun hatinya teramat kacau balau hari ini. Benang-benang dalam kehidupannya selalu nampak kusut tak beraturan sekalipun ia ingin mengurainya dengan benar.
“Hidupku sepertinya tidak ditakdirkan bahagia ya, Dra!” ucap Kinan dengan nada lemah. Matanya masih menatap langit-langit yang mulai gelap sepenuhnya. Kilauan lampu memenuhi pandangan matanya kini. “Rasanya Tuhan tak adil memberikan jalan hidup yang begitu rumit untukku.”
“Kamu tidak pernah sendirian, Nan. Ada aku, ada Natasya. Dan kita yakin kamu bisa melewati segala yang ada di depan sana. Kamu perempuan kuat dan hebat. Aku tahu itu!”
“Keberuntungan yang Tuhan beri padaku hanya karena memiliki kalian, Dra. Kamu dan Natasya. Aku tak tahu jika kalian tidak ada di saat masa-masa sulit seperti ini. Mungkin aku tak akan kuat.”
Diandra memandang lembut Kinan yang masih saja memerhatikan lampu-lampu jalan yang menyala satu persatu. Kinan lalu membalik menghadap Diandra. Disambut tangan Diandra yang terbuka lebar, bersiap memberi banyak kekuatan pada Kinan. Namun Kinan hanya membeku.
“Aku sudah lelah menangis, Dra. Di dalam dadamu, aku yakin kamu menyimpan banyak bubuk cabai. Mataku pasti perih dan mengeluarkan banyak air mata.”
Tanpa banyak bicara Diandra maju beberapa langkah mendekati Kinan. Ia memegang bahu Kinan, lalu membawa tubuh Kinan dalam pelukannya. Mendekap tubuh mungil gadis itu dengan erat.
Kinan menangis sejadi-jadinya dalam d**a Diandra. Di sana, adalah tempat paling nyaman bagi Kinan untuk menumpahkan segalanya. Sahabat yang dikenalnya sejak bangku sekolah menengah pertama itu, memang selalu ada untuk Kinan kapanpun ia butuhkan. Sama halnya seperti Natasya
“Makan, yuk! Kalau sudah dingin nggak enak. Aku suapin mau?” Laki-laki berperawakan tidak tinggi dan tidak pendek dengan kulit berwarna tan itu melepas pelukan. Melongok bungkusan plastik yang masih berada dalam genggamannya dengan serius.
“Please, Diandra! Aku bukan anak kecil.”
Diandra terkekeh. Lalu mengacak-acak rambut Kinan dengan lembut. Katanya, sosok anak kecilmu akan keluar ketika kamu berada bersama orang yang membuatmu nyaman. Itu benar. Kinan selalu manja dan bertingkah kekanakan ketika bersama Diandra.
Kinan meminta Diandra masuk ke dalam kontrakan untuk menghabiskan ramen bersama. Namun pada kenyatannya Diandra hanya mengamati dengan lamat bagaimana Kinan memakan ramennya dengan lahap. Senyum dari bibir tipisnya menyungging. Syukurlah Kinan tak berlarut-larut. Ia tahu betul motto Kinan. Meski banyak kepedihan yang menimpa dirinya, ia tetaplah harus makan agar tetap bisa hidup. Dan dia tetap harus hidup, agar bisa makan. Motto yang aneh memang.
Kinan memang sosok perempuan yang tegar. Dia tak pernah berlarut-larut dengan kesedihan. Bahkan kesedihan dan rasa sakit seperti teman akrab yang harus didekapnya dalam hidup.
“Kamu mau dengar kabar baik, Nan?” ucap Diandra setelah Kinan menghabiskan ramennya sampai tak bersisa.
“Apa?” tanya Kinan yang mengambil gelas di lemari kecil, mengisinya dengan air putih dari dispenser.
“Kamu mau pindah kerja ke perusahaan tempat aku bekerja? Kebetulan ada lowongan.”
“Perusahaan property? Pengalamanku kan lebih ke editor dan segala yang berhubungan dengan tulisan.”
Kinan menengguk habis air putih yang ada di tangannya. Lalu menyimpan gelasnya sembarang. Beralih duduk di depan Diandra.
“Kita memang butuh bagian marketing. Dimana kamu tinggal mengelola blog perusahaan kami. Kamu tinggal memosting gambar dengan caption yang membuat orang tertarik membeli,” jelas Diandra sembari mengotak-atik handphone lalu menunjukan sebuah laman blog perusahaannya. “Kamu masih tetap mau kerja di sana dengan gaji tiga bulan yang belum dibayar? Masih mau ketemu Kavin yang memutuskan sepihak begitu saja?!”
Kinan tak perlu bertanya darimana Diandra tahu semua masalahnya tanpa menceritakan itu. Natasya akan jadi orang pertama yang menyampaikan masalah yang ia hadapi pada Diandra. Tak heran Diandra sepulang kerja datang dengan membawa makanan kesukaan Kinan beserta kabar baik untuknya.
Hening.
Kinan terdiam untuk beberapa detik. Dia bahkan tak sempat memikirkan hal itu. Sepertinya ini pula kesempatan Kinan untuk merubah nasib. Mendapat penghasilan yang lebih baik dengan bekerja di perusahaan besar.
“Kapan waktunya?”
“Besok pagi kamu datang untuk interview di sana. Pakai baju rapi. Bertemu langsung CEO perusahaan. Katanya dia sendiri yang akan menseleksi bagian marketing karena punya pengaruh besar dalam penjualan. Dia butuh orang yang ulet. CV kamu kirim via email malam ini juga.”
Kinan hanya mengangguk-anggukkan kepala mengerti, tanpa menjawab. Sepertinya ia harus memikirkan banyak hal dulu semalaman ini.
***
Alarm handphone Kinan berbunyi nyaring. Kinan terperangah lalu gegas ke kamar mandi untuk bersiap. Memakai pakaian paling rapi yang dia punya serta menyemprotkan sedikit parfum. Kinan yang tak biasa bermake-up, hanya mengoles tipis bedak padat serta lipstik bewarna nude di bibir. Rambut lurus sepunggungnya ia ikat satu ke belakang. Mengamati diri di depan cermin. Memutar badan ke kiri dan kanan memastikan penampilanya hari ini sempurna.
Setelah semalaman bergelut dengan batinnya, Kinan akhirnya memantapkan diri untuk berhenti bekerja di penerbitan. Ia tak mau bertemu laki-laki yang dipacarinya setahun lalu itu. Kecuali besok. Saat Kinan memutuskan meminta haknya tentang gaji yang belum dibayarkan.
Dengan langkah optimis, Kinan keluar dari kamar kontrakan menuruni tangga dengan bunyi ketukan high heels yang khas. Bagi Kinan yang kurang feminim, tentu saja memakai hak tinggi merupakan hal yang amat menyusahkan. Namun tetap saja, dia harus memberikan kesan elegan di hari wawancara kerja agar menarik perhatian.
Butuh berjalan kaki sekitar lima menit untuk mencapai halte di ujung jalan. Juga butuh dua puluh menit dari tempat kontrakan Kinan ke perusahaan dengan ongkos pulang-pergi yang tak sedikit. Itu berarti dia harus memikirkan bagaimana menghemat waktu dan transportasi seandainya diterima. Banyak sekali hal yang Kinan pikirkan terutama masalah keuangan. Kinan memang tipikal orang yang terbiasa dengan hal-hal yang tersusun meski sangat teledor dalam beberapa hal.
Kinan berdiri terpaku di depan sebuah gedung mewah setelah sampai di depan perusahaan. Gedung lima belas lantai itu benar-benar megah. Ia bahkan tak bisa membayangkan bagaimana cara orang-orang membangun gedung tinggi dengan arsitektur yang modern. Atas petunjuk Diandra, ia harus naik ke lantai paling tinggi menuju ruangan CEO.
Kinan melirik jam di pergelangan tangan. Sudah menunjukkan pukul 06:55 WIB .
Gawat!
Bahkan janji temu dengan CEO pukul 07:00 WIB pagi. Itu artinya dia harus sampai ke lantai lima belas hanya dalam waktu lima menit. Hal yang sebenarnya sangat mustahil.
Kinan mempercepat langkah. Setengah berlari dengan rok selututnya. Tatapan beberapa karyawan padanya di dalam gedung, tak ia pedulikan. Tidak mungkin jika di hari wawancara saja dia datang terlambat. Apa kata CEO-nya nanti?
Saat akan sampai di depan lift, tubuh Kinan limbung karena berlari terlalu cepat tanpa mempedulikan sekitar. Ditambah sepatu hak tinggi yang ia kenakan membuat keseimbangannya hilang. Hampir saja Kinan terjatuh. Namun, seseorang dengan sigap berhasil memegang bahunya kuat. Kinan dengan cepat membenarkan posisi. Berdiri tegak sembari memijit-mijit hidung mancungnya yang kesakitan karena terbentur sesuatu yang keras. Sesaat, ia merasa seperti ada lingkaran berisi burung-burung yang berputar di atas kepalanya.
Kinan mengedip-ngedipkankan mata agar penglihatannya jelas. Saat sadar, rupanya dia sudah menabrak d**a seseorang yang menolongnya. Terlihat jelas noda lipstik murahnya, menempel di kemeja putih milik laki-laki yang sudah menahan tubuhnya tersebut.
Kinan mendongak hati-hati. Dia sadar harus segera meminta maaf agar segera pergi sebelum akhirnya benar-benar terlambat. Namun alangkah terkejutnya Kinan saat mendapati laki-laki yang kini sedang berdiri di depannya adalah orang yang ia kenal. Laki-laki itu mendekapkan kedua tangan di d**a dengan wajah sangat marah.
Kinan mengucek matanya. Memastikan bahwa penglihatannya kali ini tak salah. Berharap jika semua ini hanya halusinasinya saja. Namun tak ada yang berubah. Penglihatannya tepat. Di hadapannya kini berdiri laki-laki yang wajahnya sudah tak asing lagi. Orang yang paling tak mau ia temui untuk ke dua kali.
Damian.