Chapter 1

2396 Words
Yue POV Aku terbangun di malam hari, merasa tak tenang tinggal di tempat asing seperti ini. Bahkan walau kenyataannya itu kamar terbaik yang pernah kutempati, juga pekerjaan dengan gaji termahal yang pernah kulakukan. Rasanya terlalu aneh jika dipikirkan baik-baik, untuk apa kakak beradik itu membayar aku semahal itu hanya untuk mengasuh anak yang bahkan jarang muncul? Aku yakin mereka punya niat lain padaku, tapi bagaimana cara aku mengetahuinya jika Vance maupun Vella sangat jarang muncul? Ini sudah tiga hari aku tinggal di sini dan sehari pun aku tak menemukan salah satu dari manusia berambut pirang itu. Hanya anak kecil dengan perilaku aneh yang selalu datang di pagi hari untuk meminta makan sebelum ke sekolah. Kuputuskan untuk melukis saja, menghabiskan waktu sambil menunggu matahari terbit. Menggunakan peralatan gratis di ruang kerja Vance, walaupun aku tak tahu punya siapa, tapi siapa yang peduli. Salahkan pemilik rumah yang jarang pulang itu. Tak lama, aku pun hanyut dalam dunia milikku sendiri, asik membubuhi warna-warni di atas kanvas. Hingga suara pintu yang dibanting mengejutkanku. Vance masuk ke dalam sambil marah-marah pada seseorang di seberang telepon. Berjalan dengan langkah gontai ke sofa di pojok ruangan, ia pun menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa itu dengan keadaan yang tak cukup baik. Di lengan dan kakinya terlihat begitu banyak bercak darah, juga dari punggungnya terlihat luka gores yang cukup panjang, terus mengeluarkan darah dari bekas sobekan kemeja yang ia kenakan. Aku khawatir, bagaimana kalau luka itu terus mengeluarkan darah dan dia mati? Lalu siapa yang akan membayarku? Atau lebih buruk lagi, aku yang akan dituduh membunuhnya. Baiklah, terpaksa aku harus merawatnya. Bagaimanapun juga, dia masih bosku, kan? Segera kutinggalkan palet dan kuas yang sedang kupegang, berjalan ke arahnya sambil membawa sekotak tisu yang tersedia. Kalau soal obat, lihat nanti saja. Siapa tahu dia punya stok. “Apa yang kau lakukan!!” bentak Vance saat aku menyentuh lengannya. Tak tampak terkejut sama sekali dengan kehadiranku, sepertinya ia sudah melihatku terlebih dahulu saat masuk tadi. “Mencoba merawatmu, Tuan,” jawabku datar. Memperhatikan lebih rinci luka-luka itu. Dia mendengus sebal, menendang bahuku menggunakan sepatu yang berlumuran darah. Menjijikkan, aku harus ingat menagih ongkos laundry nanti. “Aku tak butuh belas kasihan darimu!” ketus Vance, memberi sebuah tatapan angkuh. Aku menghela napas lelah, jika saja dia tidak kaya raya dan mudah ditipu untuk mengeluarkan uang banyak demi gengsinya itu, aku tak akan sudi peduli padanya. “Siapa bilang aku kasihan padamu? Aku hanya tak mau kau mati dan aku berakhir menjadi pengangguran yang tinggal di jalanan lagi. Yah, kalau kau mau menuliskan wasiat atas namaku sih aku tak peduli kalau kau sampai mati kehabisan darah.” Mendengar balasanku, ia mengumpat marah. Menyalahkan kakaknya yang membawa parasit sepertiku ke rumahnya. Sedangkan aku cuek saja, menyeret paksa tubuhnya yang cukup berat itu ke kamar mandi, melemparinya dengan agak kasar ke bawah shower. Bukan untuk melakukan pelecehan atau menyiksanya agar mau menuliskan wasiat untukku kok, aku hanya berniat membersihkan tubuhnya agar aku tahu bagian mana yang benar-benar terluka. Soalnya aku tak yakin seluruh darah yang menempel pada tubuhnya itu darahnya sendiri. Aku tak bodoh, cukup tinggal satu malam di rumah ini, aku sudah bisa menebak kira-kira pekerjaan apa yang ia tekuni. Gudang senjata, laboratorium dengan bahan peledak serta racun, ruang latihan menembak pribadi dan puluhan manusia berpakaian serba hitam keluar masuk dengan bebas. Kalau bukan mafia apa lagi? Meskipun aku tak peduli, selama dia membayarku, maka orang itu baik. Begitulah cara aku menilai seorang manusia. “k*****t! Apa yang ingin kau lakukan padaku!” bentaknya lagi, mulai menendang kakiku brutal.  Sampai-sampai aku curiga, apakah ia sungguh seorang manusia? Tidakkah luka-luka itu sakit? Atau setidaknya tubuhnya lemas akibat kelelahan? “Membersihkanmu, setelah itu baru akan kuobati. Jangan terus meronta, Tuan, aku yang repot kalau kau sampai mati.” “Cih! Kau yakin tak sedang mengodaku, bukan?” sinisnya, penuh kecurigaan padaku. Sepertinya dia masih berpikir kalau aku bekerja pada kakaknya untuk menjadikan dia gay. Yang benar saja, aku bahkan bukan seorang gay,tapi kalau wanita itu bersedia membayarku dua kali gaji dari Vance dan mau membayarkan ganti rugi pembatalan kontrak kerja sih, jadi gay juga tak masalah. “Tidak. Kau lupa kalau aku ini budakmu? Tentunya aku tak akan berhianat dan menuruti perintah saudaramu,” tapi kalau keadaan lebih menguntungkan, aku dengan senang hati akan berhianat. Asal Vance tak tahu saja. “Ya sudah, cepat obati!” jawabnya kasar. Melepaskan sendiri seluruh pakaiannya, mengambil sebuah handuk kecil dan diikatkan ke pinggangnya. Ia duduk dengan pasrah di tepian bathtub, membiarkan aku merawat lukanya. Sementara aku malah berpaku diam tanpa melakukan apa pun, memperhatikan betapa banyaknya tanda-tanda kekejaman pada seluruh permukaan kulit putih itu. Dari ujung kaki hingga batas lehernya dihiasi oleh bekas jahitan, luka tembak hingga luka bakar. Membuatku sedikit merasa bersimpati, seolah-olah melihat seorang korban perang. Bukannya seorang tuan besar dengan kekayaan melimpah ruah. Aku penasaran, apa dia tak pernah bermimpi buruk dan ketakutan bila mengingat kejadian saat luka-luka itu tertinggal di tubuhnya? “Apa yang kau lakukan Yue!? Cepat obati! Kau mau membiarkan bosmu ini mati hah!” Oh, kurasa aku menghabiskan waktu terlalu lama untuk melamun. Sebab Vance sudah melotot tajam padaku, bersedekap dengan angkuhnya.  Kutepuk punggungnya yang terluka, “Lukanya sudah berhenti mengeluarkan darah, kau tak akan mati, Tuan,” mengelapnya asal-asalan. “Kau itu niat merawatku atau tidak! Dasar b***k tak berguna!” “Aku tak punya kotak obat dan aku tak punya uang untuk pergi membelinya. Dibiarkan saja, besok pagi baru ke rumah sakit. Kau kaya, pasti mampu untuk membayar.” “Dasar t***l! Pelit! Parasit tak berguna! Dibalik cermin itu ada kotak obat, cepat ambil! Aku tak mau sampai punggungku bernanah kalau dibiarkan begitu saja sampai pagi!” “Harusnya kau bilang dari tadi,” keluhku, berjalan ke arah cermin yang ia tunjuk. Dia pun mengumpat lagi, "Gunakan otakmu t***l! Harusnya sejak awal kau sudah membawa kotak obat saat berniat merawatku!" membuatku hanya bisa pasrah memiliki bos bermulut b***t dengan kelakuan buruk. Setelah menemukan kotak obat yang rupanya super lengkap itu, aku kembali menghampirinya. Menuangkan sekantong air infus ke atas luka sayat di punggungnya, buat sterilisasi begitu. "Berhenti, Yue! Bukan begitu caranya, gunakan kapas bodoh! Begitu saja tidak tahu!" marah Vance lagi, benar-benar pasien yang merepotkan. "Aku ini seniman, Tuan, bukan perawat. Mana mengerti cara merawat luka." "s**t! Merawat luka itu pengetahuan umum, jangan membela diri. Kau membuatku kesal!" "Memangnya kapan kau tidak kesal!" Aku ikutan kesal, menepuk luka itu keras-keras menggunakan kapas. Herannya, Vance sama sekali tak meringis maupun menjerit, membuat sedikit kagum padanya. Ia bahkan menyuruhku yang amatiran ini menjahit luka sepanjang belasan sentil itu. "Aku tidak pernah menjahit luka, kalau hasilnya jelek dan membekas gimana?" atau membusuk dan kau mati gimana? sambungku dalam hati. "Aku tak peduli! Laki-laki itu harus bangga punya bekas luka yang banyak. Cepat kerjakan! Anggap saja sedang menjahit kain, setelah itu pasang perbannya!" Ck. Dasar sombong, terserah. "Baiklah, tapi nanti jangan salahkan aku kalau rasanya menyakitkan," jawabku acuh, menjahit asal-asalan tanpa berniat memberikannya obat bius dulu. Lagi pula Vance masih diam, tak tampak sakit sama sekali, atau mungkin tidak... ternyata dia hanya sok pura-pura baik-baik saja, dan aku baru menyadarinya saat jahitanku sudah hampir selesai. Tangannya mengepal erat, juga keringat dingin yang bercucuran dari keningnya itu dan ekspresi wajah menahan sakit. Dasar pria sombong, apa sulitnya mengatakan sakit saat merasa sakit. Apa untungnya bersikap sok kuat seperti itu? Sungguh manusia merepotkan. "Sudah selesai, Tuan," ucapku setelah selesai menjahit dan memasang perban. "Ya sudah, sana pergi," dia langsung mengusirku dan menyadarkan tubuhnya ke dinding. Lagi-lagi sok kuat. "Kenapa tidak jujur saja kalau kau tak sanggup berjalan ke kamarmu? Dasar sombong." Terpaksa aku mengambil tangannya secara paksa dan memapahnya. Tak mungkin juga kutinggalkan begitu saja di kamar mandi ruang kerjanya. Bisa-bisanya besok pagi dia mati kedinginan dan aku yang disalahkan oleh kakaknya. "SIAPA BILANG AKU TAK KUAT! AKU BISA JALAN SENDIRI SIALAN!! LEPASKAN!!" tonta Vance, berusaha mendorongku menjauh tanpa menyadari betapa lemahnya dorongan tangannya itu. Aku jadi malas membalas ocehan gengsiannya itu, jadi kuputuskan untuk diam. Membawanya ke kamarnya, membaringkannya ke atas tempat tidur dan memakaikannya piyama sambil mengacuhkan deretan caci-maki yang ia lontarkan. Tak lama, Vance capek sendiri. Tertidur sambil mengenggam tanganku yang tadinya kuletakkan di atas keningnya sekadar untuk mengecek ia deman atau tidak., tapi malah ia tangkap saat mengigau. Sekarang aku harus bagaimana? Melepaskannya dan kembali ke ruang kerja untuk melukis? Atau tetap duduk di sampingnya sampai ia bangun? ∞ "Mommy di mana? Lin lapal!" "Mommy Yue!" Aku mengerjap, terbangun mendengar suara teriakan anak nakal yang kuasuh, gadis kecil yang entah kenapa selalu datang setiap pagi minta dibuatkan sarapan seolah-olah di rumahnya sendiri tak ada makanan. "Di sini, Rin!!" pekikku menyahut nya, tak tahan mendengarkan suara teriakan yang makin keras. Tak lama, ia masuk dengan cengiran bahagia di wajahnya, "Ihihihi... kalau Mommy lagi acik ikeh-ikeh cama Daddy Pen, Lin nggak jadi lapal. Cilakan dilanjutkan," menutup pintu pelan-pelan setelah mengucapkan kata-kata yang tak kupahami. Vance yang tadinya tertidur di sampingku pun bangun, segera mengejar anaknya sambil berteriak, "Apanya yang silakan lanjutkan Rin! Awas kau bocah!" "Ikeh-ikeh cama Mommy yang unyu! Lin titip adik ya, Daddy Pen!" pekik Feyrin membalas. Berakhirlah mereka saling berteriak tak jelas. Sementara aku memutuskan untuk menyiapkan sarapan saja. Bukannya mau sok peduli, tapi karena aku memang dibayar untuk menyiapkan sarapan Feyrin, kalau sarapan untuk Vance biar dia buat sendiri saja. Setelah sarapan siap, anak nakal itu datang untuk makan bersama dengan ayahnya. Walaupun Vance hanya membuat secangkir kopi sih. Aku sendiri memang tak pernah sarapan, jadinya aku hanya menyuapi Feyrin sambil melirik ke arah Vance. Curiga apakah dia sungguh manusia atau bukan, soalnya dia sama sekali tak tampak sakit atau sedang terluka. Padahal aku yakin semalam dia demam, sampai aku dengan terpaksa harus merawatnya hingga ketiduran di sana dan membuat anak nakal satu ini salah paham. Vance mengacuhkanku sepanjang sarapan, dia malah asik sendiri mengepang rambut Feyrin berbentuk seperti bando. Dia bahkan tak mau menatap mataku, entah karena marah privasinya aku langgar atau memang karena dia terlalu bahagia mengurus anaknya. Aku sih cuek saja, lagi pula itu tak merugikanku. Kalau saja bocah satu ini tak melirik bolak-balik antara aku dan ayahnya dengan tatapan aneh, jujur saja itu menyebalkan. "Daddy Pen dan Mommy Yue berkelahi?" tanyanya dengan ekspresi wajah polos. Seolah-olah kami ini keluarga kecil yang bahagia, bukannya dua orang pria asing. Kepalanya langsung dijitak oleh Vance. "Dia pengasuhmu, Rin! Bukan mommymu!" Membuat Rin menangis memelukku mengadu, "Hiks... Mommy, Daddy Pen jahat cama Lin," refleks aku merasa kasihan, menatap Vance dengan tatapan meredahkan. "Bukan hanya jadi orang tua tak bertanggung jawab, tapi juga kasar sama anak. Kasihan anakmu," sinisku. Vance langsung ngamuk, berteriak murka padaku dan anaknya. "DIAM KAU! TAHU APA KAU SIALAN! KAU JUGA RIN, JANGAN PAKAI TAKTIK PURA-PURA JADI KORBAN ITU! ATAU KAU TAK AKAN KUBELIKAN BUSUR BARU!" "Ehehe... Habisnya Lin jijik lihat Daddy Pen yang pendiam dan baik. Ini baru Daddy b***t kecayangan Lin. Daddy jangan ngambek ya, belikan Lin busur baru ya, kan Daddy sudah janji." Aku speechless, melihat bagaimana anak nakal itu berbalik memeluk Vance sambil tertawa manis, merenggek meminta sebuah busur? Sepertinya aku mengerti kenapa bayaran untuk mengasuhnya mahal, ternyata anak itu sama gilanya dengan ayahnya.  Untungnya seorang pria cantik datang menjemput seperti biasanya, mengambil anak itu untuk diantarkan ke sekolah. "Feyrin, ayo ke sekolah." "Ayah Jooo!! Ayo!! Ayo!! Dadah Daddy Pen!! Dadah Mommy Yue!!" Membuatku tak harus melihat lebih banyak pemandangan ganjil hubungan anak dan ayah aneh itu, tapi tetap saja aku terjebak di dapur bersama dengan Vance yang memintaku membuatkannya secangkir kopi kedua. "Aku tak mau. Itu bukan pekerjaanku," tolakku langsung. Berniat pergi, tapi aku segera berbalik ketika ia menunjuk pada sebuah laci di lemari kaca. "Ada kotak berisi uang belanja di sana, ambil bayaranmu dan buatkan aku kopi," ucap Vance, terdengar amat manis hingga aku dengan senang hati membuatkannya kopi. "Silakan, kalau begitu aku pergi dulu, Tuan." Dan sekali lagi aku dicegat olehnya, tanganku ditahan ketika berjalan melewatinya. "Buatkan aku sarapan, bacon dan telur goreng," perintahnya manja, membuatku curiga dan berniat menolak, tapi dia sudah terlanjur mengucapkan kata-kata favoritku sebelum aku menolak. "Ambil bayaranmu di kotak itu lagi." Benar-benar bos baik hati. Dengan senang hati aku pun memasak, menakar hati-hati bumbunya agar pas dan Vance suka. Lalu dia makin sering memintaku memasak, dengan begitu uang tabunganku akan cepat bertambah juga. Tak hanya patuh, aku juga bermurah hati mengajaknya mengobrol, membangun sebuah hubungan kerja yang baik demi segepok uang bonus. "Tuan, kau baik-baik saja? Kalau masih sakit aku bersedia merawatmu," dengan tambahan bayaran tentu saja. "Cih, kau pikir aku ini orang tua penyakitan apa!? Tentu saja aku baik-baik saja." Cih, gagal sudah niat dapat uang merawat. "Bukannya begitu, aku hanya khawatir padamu," terutama pada uang yang bisa kudapatkan darimu. "Tidak usah berpura-pura! Aku tahu niat busukmu," ketusnya, membuat mood-ku lenyap begitu saja. Kesal karena Vance bisa mengetahui niatku yang ingin memerasnya, kalau begini caranya, bagaimana aku bisa mendapatkan bayaran lebih? "Ya sudah, aku terus terang saja. Ada yang bisa kukerjakan demi bayaran tambahan?" tanyaku terus terang, menyajikan sepiring makanan pesanannya, kemudian duduk di depannya. Dia diam, mengunyah telur goreng itu dengan ekspresi wajah yang sebal. Merasa muak dengan suasana kaku ini, jadi kuputuskan untuk berbasa-basi saja. "Jouis itu cantik ya, aku penasaran berapa umurnya. Dia ayah tiri Feyrin?" tanyaku asal, sedikit penasaran juga dengan sosok pria cantik yang bisa dengan mudah menjinakkan anak Vance yang liar itu. Vance langsung terbatuk, tersendat bacon lebih tepatnya. Kemudian ia mengebrak meja setelah selesai meminum habis sebotol air mineral yang ia ambil dari kulkas. "Jouis itu ayah kandung Rin! Jangan coba-coba mendekatinya, atau kubunuh kau!" "Eh? Bukannya Feyrin anak hasil incest-mu?" "SUDAH KUKATAKAN KALAU AKU TIDAK INCEST!! KAU MAU MATI, HAH!!" Vance pun murka, menindasku seenak udelnya. Setelah puas, barulah ia menjelaskan hubungan mereka yang membingungkan, memberitahu kenapa ia dipanggil daddy dan bukannya uncle seperti yang seharusnya. Alasan bodoh tak masuk akal pula, apa maksudnya coba dengan 'ingin memerankan peran seorang ayah tanpa memiliki anak sendiri?’ kurasa hanya Vance yang berkeinginan seperti itu. Bukan salah aku yang bodohkan? Vance saja yang aneh. Ah, kakak dan keponakannya juga sama anehnya. "Ya sudah, inikan cuma salah paham. Tak perlu bentak-bentak seperti itu, lagi pula perilaku aneh kalian yang bikin aku salah paham," Judesku, membalas makiannya dengan acuh.  "KAU YANG SEENAKNYA BERPIKIRAN BURUK PADAKU! DASAR b***k KURANG AJAR! MAU KE MANA KAU, YUE!!" Vance ngamuk lagi. Sementara aku berjalan santai menjauhinya. Malas menghadapi orang merepotkan seperti itu, meski sejujurnya ada sedikit rasa lega saat mengetahui kalau kakak beradik pirang itu tak incest seperti dugaanku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD