BAB 6 – IRAMA DI BALIK KESUNYIAN
Balkon Le Château Noir masih menjadi saksi bisu permainan tarik-ulur mereka. Angin malam yang berembus lembut membawa aroma anggur merah, parfum eksklusif, dan ketegangan yang menggantung di antara dua sosok yang terbiasa memegang kendali.
Marco Maxdev menatap Lovania Valley dengan sorot mata tajam, penuh perhitungan. Wanita di hadapannya bukan tipe yang mudah dikendalikan—dan itulah yang membuatnya semakin menarik.
Lovania, di sisi lain, tetap anggun dalam diamnya. Dia tidak terburu-buru menjawab, tidak membiarkan atmosfer mendikte reaksinya. Wanita seperti dia memahami bahwa kesabaran adalah senjata paling mematikan.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Marco berbicara dengan suara rendah yang nyaris berbisik.
Marco: (Nada suaranya dalam, penuh kendali, tetapi memiliki daya pikat yang sulit diabaikan) "Miss Valley, Anda sangat ahli dalam menciptakan jarak yang sempurna. Tidak terlalu jauh, tetapi juga tidak cukup dekat.”
Lovania menoleh dengan gerakan halus, bibirnya melengkung dalam senyum yang sulit diterjemahkan.
Lovania: (Suaranya lembut, tetapi ada ketegasan yang tak terbantahkan di dalamnya) "Dan Anda sangat ahli dalam menembus batas yang bahkan tidak diundang, Tuan Maxdev."
Marco mengangkat gelas anggurnya, memutar cairan merah tua itu dengan gerakan yang begitu santai, seolah dia menikmati setiap detik dari percakapan ini.
Marco: (Mengangkat alis dengan ekspresi menggoda) "Saya tidak pernah membutuhkan undangan. Saya hanya tahu ke mana saya harus melangkah."
Lovania terkekeh pelan, tetapi sorot matanya tetap waspada.
Lovania: (Mengangkat bahu dengan anggun, tatapannya penuh teka-teki) "Percaya diri adalah kualitas yang menarik, tetapi terlalu banyak bisa menjadi bumerang."
Marco tersenyum miring, melangkah mendekat hingga hanya beberapa inci memisahkan mereka. Jemarinya terulur, menyentuh pinggiran gelas anggur Lovania dengan sentuhan ringan, tetapi cukup untuk menciptakan sensasi halus di antara mereka.
Marco: (Suaranya lebih rendah, hampir seperti bisikan yang menusuk kesadaran Lovania) "Dan apakah saya sudah melewati batas, sayang?"
Lovania tidak langsung menjawab. Dia membiarkan keheningan berbicara lebih banyak dari kata-kata, membiarkan Marco merasakan bahwa dia tidak bisa terburu-buru memaksakan jawaban darinya.
Akhirnya, setelah beberapa detik yang terasa seperti permainan sabar, Lovania menggeser gelasnya sedikit, cukup untuk menghentikan sentuhan Marco tanpa benar-benar menolaknya.
Lovania: (Suaranya tenang, tetapi memiliki efek yang mendalam) "Anda masih dalam batas aman… untuk saat ini."
Marco menatapnya lebih lama, lalu tersenyum kecil—senyum yang tidak mudah dibaca, tetapi memiliki arti tersendiri.
Marco: (Nada suaranya lebih dalam, lebih santai, tetapi tetap berbahaya) "Saya tidak terbiasa bermain aman, Miss Valley."
Lovania menyesap anggurnya lagi, tetap mempertahankan kendalinya yang sempurna.
Lovania: (Tersenyum samar, matanya berkilat penuh intrik) "Maka mungkin inilah saatnya Anda mencoba sesuatu yang berbeda, Tuan Maxdev."
Dan saat itu juga, Marco tahu bahwa Lovania Valley bukan hanya lawan yang sepadan—dia adalah irama dalam kesunyian yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Sebuah simfoni yang gelap, penuh bahaya, dan terlalu memikat untuk ditolak.