BAB 54 – MENDOMINASI TANPA KATA
Malam semakin larut, tetapi atmosfer di dalam kabin utama kapal pesiar Marco terasa semakin panas—bukan karena suhu, tetapi karena ketegangan yang terus membangun di antara mereka.
Lovania duduk di sofa beludru berwarna gelap, kakinya bersilang dengan anggun. Gaun satin hitamnya membentuk lekukan sempurna di tubuhnya, menciptakan aura yang tidak hanya memikat tetapi juga berbahaya.
Di seberangnya, Marco duduk di kursi berlapis kulit, menyesap whiskey dalam diam. Matanya mengunci pada Lovania, mengamati setiap gerakan kecil yang ia buat—seperti seorang predator yang menunggu saat yang tepat untuk menerkam.
Marco: (Suara tenang, tetapi sarat makna.)
"Kau menikmati ini, bukan?"
Lovania mengangkat alis, menyandarkan punggungnya ke sofa, tatapannya penuh tantangan.
Lovania: (Santai, tetapi tajam.)
"Dan apa yang kau maksud dengan ‘ini’?"
Marco tersenyum miring, meletakkan gelas whiskey-nya di meja kaca dengan suara pelan. Dia lalu bangkit dari kursinya, mendekat dengan langkah yang tidak terburu-buru, tetapi penuh kepastian.
Marco: (Dengan nada rendah, mendominasi.)
"Permainan yang kau mulai. Ketenangan yang kau tunjukkan. Seolah-olah kau bisa mengendalikan situasi ini."
Lovania tidak bergeming, meskipun jantungnya sedikit berdetak lebih cepat.
Lovania: (Dengan senyum tipis.)
"Dan kau berpikir aku tidak bisa?"
Marco kini berdiri tepat di depannya, menunduk sedikit untuk mendekatkan wajahnya ke arahnya. Matanya tajam, penuh ketertarikan sekaligus peringatan.
Marco: (Berbisik, menggoda.)
"Aku hanya ingin melihat seberapa lama kau bisa bertahan, sayang."
Lovania menatapnya dalam, lalu tersenyum penuh arti. Dia tidak pernah mundur dari tantangan.
Lovania: (Dengan suara lembut, tetapi berbahaya.)
"Mungkin pertanyaannya adalah, Marco… seberapa lama kau bisa bertahan?"
Ketegangan di antara mereka semakin menguat.
Ini bukan sekadar permainan biasa.
Ini adalah perang dingin antara dua orang yang sama-sama terbiasa menang.
Dan di antara mereka, tidak ada yang berniat menyerah lebih dulu.