Ilalang tumbuh subur di mana pun benih tertanam. Tidak peduli seberapa sering manusia berusaha membasmi, ilalang akan selalu tumbuh di mana pun ia berkehendak.
Seperti itulah pendapatku mengenai masalah.
“Juliet!”
Aku berlari sekuat tenaga menuju suatu tempat yang tertanam dalam ingatan Juliet. Melewati koridor, mengabaikan panggilan Aeron, dan berjuang dalam setiap pijakan. Beberapa kali aku bersua pelayan yang terkejut melihat kedatanganku. Mereka tidak sempat mengelak dan aku terpaksa mendorong siapa pun yang menghalangi jalanku.
Di belakangku, Aeron dan beberapa pelayan berusaha mengejar. Entah karena fisik Juliet memang sakti atau berkat kekuatan kegilaan, aku sama sekali tidak kehabisan napas. Satu-satunya yang memicu semangatku hanyalah tempat yang tertanam dalam ingatan Juliet.
Suatu tempat yang bisa membebaskanku dari dunia terkutuk ini.
Sembari berlari aku melepas jubah tidur dan melemparnya ke salah satu pelayan yang hampir menyentuhku. Pelayan itu kelabakan lantaran jubah menyelubungi kepalanya. Alhasil dia tidak sengaja menubruk Aeron beserta yang lain.
Tidak ada sedikit pun keinginan menyaksikan ketololan pengejarku. Aku hanya berlari, berlari, dan terus berlari hingga sampai di sebuah taman dengan dinding menjulang. Semak ivy dan mawar menutupi sebagian besar dinding. Mataku terus mencari-cari hingga menemukan sebuah lubang yang tertutup oleh gentong kayu.
Setelah menggeser gentong kayu, barulah terlihat lubang yang bisa dilewati orang dewasa dengan cara merangkak. Seperti lipan mencoba keluar dari sarang, aku merangkak. Embun di rumput membuat gaunku basah. Aroma tanah menyemangatiku agar terus bergerak hingga berhasil lolos dari lubang tersebut.
Hamparan rumput hijau dan pepohonan cemara jarum menyambutku. Langit cerah menaungi sejauh mata memandang. Pemandangan sentosa yang seharusnya bisa menenteramkan hati siapa pun.
Aku kembali berlari memasuki kawasan pepohonan cemara jarum. Lumut merambat di kaki pohon seperti muntahan trol. Setiap kali melewati pohon cemara jarum, seekor walet berkicau seakan menyambut kehadiranku. Kaki terus bergerak seiring dengan kehendak hatiku. Terus berlari sampai tampaklah sebuah danau.
Dermaga? Menyusuri deretan kayu yang berjejer rapi di atas danau. Tidak sampai bisa mengantarku menyeberangi danau, tetapi cukup bagiku menyaksikan permukaan danau yang memantulkan sinar matahari.
Inilah tempat rahasia milik Juliet.
Tempat yang dia datangi setiap kali bermuram durja.
Terengah-engah, aku berusaha menstabilkan pernapasan setelah berlari. Rambutku kusut masai, keringat bercucuran, rumput menempel di gaun, dan selop yang sekarat karena disalahfungsikan sebagai sepatu pelari.
Selain itu, aku merasa puas.
“Jangan salah sangka, Juliet,” kataku kepada pantulan Juliet dalam danau. “Kau sangat cantik, cantik sekali. Namun, kecantikan bukan termasuk salah satu hal yang aku inginkan.”
Aku mencoba membasahi bibir. “Sayangnya aku tidak tertarik hidup sebagai dirimu.”
Angin berembus pelan. Samar-samar tercium aroma segar yang mengingatkanku pada pucuk tanaman.
Ilalang dan bunga liar tumbuh di sekitar danau. Ungu, putih, kuning, oranye; semua warna membaur jadi satu. Seekor capung terbang di sekitar dermaga. Tidak ada siapa pun selain diriku.
Aku menatap ujung dermaga, membulatkan tekad, kemudian berlari.
Inilah yang aku inginkan. Aku berlari seolah satu-satunya harapan berada di ujung sana. Lantas begitu mencapai titik terakhir, aku melompat dan terjun bebas ke dalam danau.
Air melingkupiku. Sensasi dingin membasuh tubuh. Tanaman air tampak mengapung di sekitarku. Hanya ada keheningan yang menyambutku dalam pelukan penuh kasih. Tidak ada perlawanan. Hanya penerimaan. Aku semakin terbenam jauh ke dalam danau. Cahaya berpendar, cemerlang, seperti kerlip bintang. Gelembung udara keluar dari hidung dan mulut. Perasaan hampa mengembang dalam d**a. Lalu, sensasi terbakar mendera paru-paru.
Tidak ada perlawanan. Aku biarkan tubuh Juliet perlahan kehilangan daya. Semakin dalam, terbenam ke dasar danau. Memejamkan mata, bersiap pergi.
Saat aku hampir kehilangan kesadaran, sesuatu membuatku tersentak.
Aeron.
Dia menyelam ke dalam danau. Tangannya meraih lenganku, memaksaku kembali ke permukaan. Udara kembali memenuhi saluran pernapasan, membuatku megap-megap seperti ikan. Belum sempat aku memaki Aeron, dia memaksaku menuju daratan.
Kami berdua berada di daratan. Aeron basah kuyup hingga aku bisa melihat siluet tubuh Aeron. Andai aku normal, mungkin saat ini aku akan memuja bentuk tubuh dan otot miliknya. Sayangnya fungsi otak dan jiwaku telah rusak. Maka dari itu, aku hanya memelototi Aeron.
“Kenapa?”
Aku tidak menjawab pertanyaan Aeron.
Sesaat dia seperti hendak merendamku dalam kuali neraka, tetapi kemudian semburat merah muncul di pipinya. “Kau,” perintahnya kepada salah seorang pelayan pria. “Serahkan kemejamu.”
Pelayan itu patuh, memberikan kemejanya kepada Aeron.
“Aku tidak bisa mengerti,” katanya sembari memasang kemeja kepadaku. “Apa maumu?”
“Mendinginkan kepala,” jawabku, sarkas.
Hidup sebagai Juliet bukanlah pilihan bagus.
Aku lelah. Segalanya berjalan di luar kehendakku. Andai aku hidup sebagai Juliet, maka sebaiknya ingatan masa lalu tidak perlu mengekor. Sebab luka dalam diriku masih meradang; merah, bernanah. Seolah aku tengah tenggelam dan kedua kaki dibebani peluru meriam.
“Juliet, kau hendak menyakiti dirimu sendiri.”
Aku hendak menyelamatkan diriku sendiri!
“Kenapa kau seegois ini?” Aeron menunjuk danau. “Hidup ini bukan milikmu seorang.”
“Aeron,” kataku sembari mengacungkan telunjuk. “Aku.” (Menekan d**a Aeron.) “Muak!”
Air menetes dari ujung rambut Aeron. Mulutnya terkatup rapat, sementara matanya nyalang. “Juliet, aku hanya ingin menolongmu.”
“Berikan perhatianmu kepada Yevette,” selorohku. “Aku tidak membutuhku satu sen pun perhatianmu. Apa kau tidak bisa melihatnya?”
“Kenapa kau selalu membawa Yevette? Juliet, saat seseorang menasihatimu, dengarkan.”
Astaga. Rasanya kepalaku akan pecah. Berkeping-keping.
“Hentikan,” sergahku. “Ibumu tidak menyukaiku, begitupula ayahmu. Sebaiknya kau tidak ikut campur. Bagimu tindakanku terlihat menyedihkan, tetapi ketahuilah, aku membutuhkannya.”
“Jangan salahkan aku.”
Tanpa bisa mengelak, aku merasakan sesuatu menghantam bagian belakang kepala. Sontak segalanya terlihat kabur kemudian menggelap.
“Juliet, aku terpaksa.”
Sampai kapan pun Aeron memang berengsek.
Dan begitulah, aku kehilangan kesadaran.
*
“Dia mencoba menghabisi dirinya sendiri?”
Asley terpaksa undur diri lebih awal dari pertemuan di istana. Kehidupannya tidak bisa teratur. Tidak. Semenjak Juliet mencoba menelan racun.
“Paman, Aeron sudah mengurus Juliet.” Yevette-lah yang pertama kali menemui Asley begitu dia sampai. “Sekarang dia masih tak sadarkan diri.”
Pelayan bergegas menerima jas Asley dan menunggu perintah.
“Istriku?”
“Bibi menjemput Rowan.”
Rowan, putra kedua keluarga Charion tengah menempuh tugas sebagai kesatria. Dia dikirim ke perbatasan demi memerangi populasi monster yang kian meningkat. Berkat kerja keras dan bakat, yang tentunya diturunkan oleh Asley, Rowan berhasil memperlihatkan prestasi dengan menemukan salah satu sarang ratu monster dan membinasakannya. Hari ini seharusnya mereka bersiap menyambut kepulangan Rowan dengan kegembiraan. Namun, tidak berjalan lancar.
“Apa yang bocah itu pikirkan?”
Asley menggeram. Langkah kakinya mantap, bersama Yevetee dan sejumlah pelayan, menuju kamar Juliet. Sesampainya di sana, Aeron terlihat berantakan. “Ayah,” katanya.
“Sudah kubilang,” Asley menegaskan. “Dia seharusnya tidak dibiarkan berkeliaran.”
“Paman....” Yevette berusaha meredakan amarah Asley. “Juliet hanya butuh waktu.”
“Dia cemburu kepadamu, Yevette. Pangeran Abel lebih memilihmu daripada dia.”
“Ta-tapi,” Yevette terbata, “Juliet tidak seharusnya dihukum.”
“Yevette benar, Ayah. Juliet sedang mengalami masa sulit.”
Mengabaikan Aeron dan Yevette, Asley bergegas menemui Juliet. Gadis itu tengah duduk. Pelayan telah memandikan dan mengganti pakaian Juliet.
Louis, dokter kepercayaan Charion, tengah mengajukan pertanyaan lantas terhenti begitu menyadari kehadiran Asley. Lelaki itu menampilkan isyarat dengan gelengan kepala agar Asley tidak bertindak gegabah. Namun, isyarat itu ia abaikan.
“Vernand, tolong tinggalkan kami.”
“Tapi, sebaiknya dengarkan penjelasanku.”
“Vernand, aku tahu hal yang baik bagi anak-anakku.”
Akhirnya Louis menghela napas, kalah. Dia menatap Juliet yang tengah memperhatikan Asley. Lalu, dengan berat hati ia pun pergi.
“Ayah.”
Asley mengangkat tangan, meminta Aeron diam.
“Sampai kapan kau akan bertindak bodoh, Juliet?”
Juliet telah berubah. Asley bisa merasakannya. Gadis yang dahulu gemetar dan selalu menangis setiap kali dibentak, kini menatap Asley dengan sorot mata menantang. Seperti anjing liar; siap menyalak dan bertempur hingga titik darah penghabisan.
“Kenapa kau tidak menjawab?”
“Karena aku tidak perlu menjelaskan apa pun kepadamu,” Juliet membalas, tak kalah sengit. “Perlu kutegaskan bahwa tindakanku tidak ada hubungannya dengan Pangeran Abel ataupun Yevette.”
Yevette berjengit, tidak mengira Juliet akan menyebut namanya.
“Aku bahkan tidak peduli dengan Pangeran,” Juliet menambahkan. “Kenapa kalian tidak bisa membiarkanku pergi?”
“Pergi? Ke mana?” Asley tampak terpukul. “Berhentilah membuat orang lain cemas.”
“Kalian benar-benar merepotkan!”
Juliet bangkit, menarik tangan Aeron dan berkata, “Bawa aku ke pondok ibuku.”
*
Rowan dan Diana, istri Asley, sampai di kediaman Charion. Dia mewarisi rambut Diana yang hitam legam dan mata Asley. Secara garis besar perawakannya gagah. Selain itu wajahnya pun amat rupawan.
Begitu menjejakkan kaki di kediaman, mereka berdua disambut teriakan Asley.
“Apa maksudmu kembali ke pondok Leyna?”
Rowan dan Diana saling bertukar pandang. Salah seorang pelayan menghampiri Diana, kemudian berbisik.
Rowan langsung bergegas ke asal keributan dan mendapati Juliet beserta keluarganya tengah bersitegang. Juliet benar-benar berubah. Kali terakhir Rowan bertemu, gadis itu seperti kelinci jinak. Namun, kini. Sosok yang tengah menggenggam tangan kakaknya itu lebih mirip serigala liar.
Ujung bibir Rowan melengkung, tertarik. “Ada apa ini?”
“Rowan?” Yevette langsung memeluk Rowan. Bukan jenis pelukan mesra. Murni kasih sayang dari sepupu. “Selamat datang.”
“Juliet, kau terlihat luar biasa.”
Alih-alih tersipu mendengar pujian Rowan, Juliet justru menampilkan raut muka jijik.
Dalam hati Rowan merasa tertantang, tetapi saat ini dia hanya bisa pura-pura terkejut.
“Aeron, bujuk dia agar mengerti.” Setelahnya Asley pergi, diikuti Yevette dan beberapa pelayan, meninggalkan kamar Juliet.
Kini hanya tinggal Juliet, Aeron, dan Rowan.
“Kakak, masih berusaha membujuk kelinci gila?”
“Rowan, jaga ucapanmu.”
“Menurutku dia seharusnya diserahkan kepada nenek sihir agar-URGH!”
Tanpa diduga, Juliet melempar selop dan telak mengenai kening Rowan.
Selop jatuh ke lantai, meninggalkan memar merah di kulit.
“Aku membencimu!”
Itulah yang Juliet utarakan.
Kebencian.