Galvin menghabisi setiap Zo’snagh yang menghalangi jalan. Jantung Galvin berdebar kencang. Sesuatu menyengat mata dan air mata pun tumpah bersama erangan putus asa yang lolos dari mulut Galvin. Sebagian Zo’snagh memilih mundur begitu cahaya emas berpendar dan meruyak sepenjuru bangunan. Namun, Galvin tidak peduli. Dia terus saja maju, sedikit demi sedikit, hingga akhirnya sampai di rekahan—tempat Juliet tadinya berdiri, memandang sendu, dan mengucapkan salam perpisahan. Walau ingin memanggil, tapi kata-kata tidak terbentuk; seakan kata telah kehilangan makna dan memudar. Bahkan sekalipun Galvin ingin meneriakkan pertolongan, sesuatu yang jauh lebih besar telah membebani Galvin dengan perasaan tidak berdaya. Di bawah, tergeletak dengan mata terpejam ... Juliet. Cahaya keemasan masih berp

