Gadis itu bersenandung lirih di lorong rumah sakit. Dalam tangannya sudah ada sekantong buah yang sengaja ia beli dalam perjalanan. Jina bisa membayangkan bagaimana raut terkejut Sean saat melihatnya datang setelah kemarin gadis itu berkata tidak bisa datang karena pekerjaan. Kondisi Sean sudah mulai membaik, bahkan Dokter mengatakan jika Sean sudah bisa pulang ke rumah dalam satu atau dua hari ke depan. Langkah Jina ringan, ia bahkan tersenyum cerah di sepanjang perjalanan. Gadis itu sudah sampai di depan kamar rawat Sean, namun dahinya berkerut saat tanpa sengaja ia mendengar suara seorang perempuan yang sedang mengobrol bersama Sean dari dalam. Tangannya yang sudah terangkat hendak membuka pintu sontak tertahan, kerutan di dahinya kian besar saat ia mendengar suara tawa keduanya di

