Part 2

1389 Words
Motor yang di bawa Kay nyaris saja jatuh, kalau saja Kay tidak tanggap menyeimbangkannya. Karena belum berhenti dengan sempurna motor yang dikendarai Kay, aku sudah melompat turun. Aku bahkan mengabaikan teriakan Kay yang memintaku berhati-hati saat aku berlari dengan cepat untuk masuk ke rumah. Sungguh saat itu aku khawatir. Sebenarnya ada apa dengan Bunda? Tubuhku membeku saat melihat mata Bunda yang sembab. Airmata jelas sudah membasahi dengan sempurna hampir seluruh wajah Bunda. Wajah Bunda sungguh berantakan. Tangannya masih saja menunjuk sesosok pria yang berdiri tidak jauh dari hadapannya. Aku tidak tahu siapa pria itu, karena posisinya yang membelakangiku. "Bunda." Panggilku pelan. Tanpa kusangka Bunda berlari menghampiriku, dan memelukku erat. "Sayang, Bunda mohon jangan pernah tinggalkan Bunda." Jelas saja aku menganggukkan kepalaku sabagai jawabanku. "Tentu saja Bunda, Bunda nggak perlu khawatir akan hal itu. Yayang sayang Bunda." Ucapku membalas pelukan Bunda dengan erat. "Zeva." Aku menatap punggung Pria yang berada di depanku. Mataku menatap tidak percaya saat melihatnya berbalik ke arahku. Dia Ayah. Ayah yang sudah tega meninggalkan kami, demi rekan kerjanya yang hamil karena perbuatan Hina mereka. Ah, aku bahkan muak menyebutnya dengan sebutan Ayah. "Aku mohon, Mas pergi dari sini. Kami sudah bahagia." Pinta Bunda sambil menangis dan memelukku. "Untuk apa anda datang lagi?" "Zeva, Ayah mohon ... jangan berbicara seperti itu." Aku tertawa sumbang mendengar ucapannya. "Ayah? Ayahku sudah lama mati." Jawabku ketus. "Zeva!" Panggilnya dengan suara sedikit lebih tinggi. "Bahkan Zeva anaknya sudah lama ikut mati, yang berdiri di hadapan Anda hanya ada Yayang, putri dari Ibu Irene." Aku tau dari raut wajahnya Pria yang seharusnya aku panggil Ayah, terlihat sangat kesal. Kedua tangannya mengepal, bahkan garis di wajahnya terlihat bahwa dia begitu menahan emosi. "Sayang, Ayah minta maaf kalau kamu marah sama Ayah. Bisakah kamu singkirkan emosimu? Ayah hanya ingin memelukmu, sayang." "Aku bahkan tidak sudi dipeluk oleh pria seperti Anda." "Apakah Bundamu yang mengajarkanmu untuk membenci Ayahnya sendiri?" Tanya Pria tua itu sinis. "Mas!" Teriak Bunda. "Aku hanya minta sedikit waktu darimu, biarkan anak-anak menyembuhkan lukanya. Aku mohon, pergilah dari sini. Jangan ganggu hidup kami." "Yayang nggak butuh waktu Bunda, apa maksud Bunda? Sampai kapanpun Yayang nggak akan pernah memafkan dia." Ucapku marah. "kamu hanya berpura-pura untuk mengulur waktu, Irene! Jangan berpura-pura kalau kamu itu wanita baik-baik Irene. Sudah cukup 5 tahun aku menunggu, kamu tahu, aku tidak pernah main-main. Aku akan meminta pengacaraku untuk mengurus semua masalah ini, aku pastikan hak asuh anak-anak akan jatuh kepadaku." Aku menatap Bunda meminta jawaban. Ada apa sebenarnya? Bukankah Ayah yang sudah berkhianat? Seharusnya Ayah tidak pernah bisa mendapatkan hak asuh kami jika dia yang sudah berkhianat. "Bunda?" "Masuk kamar, sayang, nanti Bunda jelaskan." Pinta Bunda seraya mengelus lenganku. "Biarkan Zeva mendengar semuanya, Irene. Berhentilah berpura-pura seolah-olah kamu itu malaikat.!" Ucap Pria itu sinis. Aku semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. "Masuk kamar, Sayang. Bunda mohon!." Pinta Bunda dengan deraian air mata. "Kamu ingin tahu yang sebenarnya? Cukup kamu dibohongi oleh Bunda yang kamu anggap seperti malaikat." "Cukup, Mas. Aku mohon! Aku akan jelaskan semuanya sama Yayang. Yayang. Bunda mohon, masuk ke kamar sayang." Dengan terpaksa aku berlalu meninggalkan perdebatan antara Bunda dan Pria yang merupakan Ayahku. Aku tidak lantas menuju kamarku, melainkan ke taman yang berada di belakang rumah. Baru saja aku duduk di bangku yang berada di taman, tiba-tiba aku merasakan seseorang memelukku, erat sekali. Entah mengapa, air mataku malah semakin deras mengalir begitu aku menyadari bahwa Kay yang memelukku. "Kalo Yayang mau nangis, nangis aja." Bisiknya sambil memelukku erat. "Kenapa masih di sini? Pasti lo denger semua keributan tadi." Tanyaku dengan suara bergetar. "Mana bisa aku pulang, kalo Yayang lagi sedih. Bisa-bisa aku dibunuh sama Abang Yayang karena nggak becus jaga kamu." Aku tertawa getir. Lagi-lagi karena Abang Yayang, alasan Kay bertahan di sisiku. "Gue nggak apa-apa. Pulang ya, gue lagi mau sendiri." Kay menggelengkan kepalanya. "Peluk Yayang sebentar lagi ya." Pintanya. Aku hanya diam memberikan waktu sejenak untuk Kay. Aku tahu Kay menangis. Entah apa yang membuatnya menangis, tubuhnya bergetar saat memelukku. "Udah selesai nangisnya?" Tanyaku berusaha tegar begitu kami sudah duduk berdampingan menghadap ke depan. "Aku nggak nangis Yang." Bantahnya. "Pulang, ya. Gue gak mau lo denger masalah keluarga gue." Pintaku. "Tapi Yayang janji besok harus cerita." Pintanya sambil mengulurkan jari kelingkingnya. "Janji." Jawabku menautkan jari kelingkingku di jari kelingking Kay. "Lo nggak apa-apa bawa pulang motor Abang Yayang? Kalo di tanya orang rumah soal mobil, gimana?" "Di rumah pasti nggak bakalan ada yang nanya. Kamu lupa, Yang, kalo orang tuaku sibuk." Mungkin ini alasan Kay betah berlama-lama di rumahku, dengan alasan menunggu mobil yang dipakai Abang Yayang, mungkin Kay bosan di rumah besarnya sendiri, atau mungkin hanya ditemani para pembantunya. Biasanya Abang Yayang pulang setelah Maghrib, dan Kay pulang ke rumah setelah Isya, pastinya setelah makan malam bersama kami. Entahlah, pikiranku sungguh pusing, aku hanya tidak ingin Kay tau semua masalah keluargaku yang begitu pelik. *** Selepas Kay pulang, aku masuk ke dalam kamarku. Sekilas, aku tidak melihat keberadaan Pria tua itu di ruang keluarga saat aku hendak menuju kamarku. Baru saja aku merebahkan tubuhku, aku mendengar suara ketukan pintu. Perlahan pintu kamarku terbuka setelah aku mengatakan 'masuk'. Tidak lama kemudian, aku melihat wajah Bunda menyembul dari balik pintu. Bunda menghampiriku, aku beranjak untuk duduk di tepi ranjang. Cukup lama Bunda hanya menggenggam kedua tanganku. "Bunda." Panggilku, namun aku kaget saat melihat reaksi Bunda yang langsung menangis. "Sayang, Bunda mohon, jangan pernah membenci Bunda. Apapun yang akan Bunda ceritakan, Bunda mohon jangan pernah membenci Bunda." Ucapnya sambil terus menangis. Aku mengusap air mata Bunda dengan kedua ibu jariku. "Bunda, Yayang sayang Bunda. Apa Bunda ragu?" Tanyaku berusaha meyakinkan Bunda bahwa aku tidak akan pernah berpaling. "Sayang, sebelumnya Bunda minta maaf. Percayalah, semua yang Bunda lakukan karena Bunda sayang sama kamu." Aku mengusap punggung tangan Bunda dengan lembut. "Cerita sama Yayang Bun, biar beban Bunda sedikit berkurang." "Janji kamu jangan benci Bunda, sayang." Pintanya. Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum. "Sebenarnya Ayahmu bukan berselingkuh dengan rekan kerjanya. Alysa adalah istri pertama Ayahmu, meskipun dinikahi secara sirih oleh Ayahmu. Bunda lah istri kedua Ayahmu. Tetapi Bunda juga tidak tahu kalau Ayahmu sudah menikah." Aku terkejut mendengar ucapan Bunda. Aku hanya mendengarkan ucapan Bunda, tanpa berniat menjeda ucapannya. "Ayah dan Bunda menikah karena dijodohkan, itu karena keluarga Ayah merasa berhutang budi, karena tidak sengaja menabrak orang tua Bunda hingga meninggal. Sebagai bentuk rasa bersalah mereka, mereka meminta Ayahmu untuk menikahi Bunda. Tentu saya Ayahmu saat itu menolak, namun, Nenekmu terkena serangan Jantung, yang akhirnya membuat Ayahmu terpaksa menikahi Bunda demi nenekmu. Bunda saat itu tidak keberatan, karena Bunda tidak memiliki keluarga lagi setelah kepergian orang tua Bunda. Saat itu Bunda marah, namun membawa perkara ini ke kepolisian, juga tidak bisa membuat kedua orang tua Bunda hidup kembali. Jadi saat itu, Bunda merasa cara yang telat adalah menerima tawaran orang tua Ayahmu untuk menikahkan Ayahmu dengan Bunda." Bunda menghela nafas panjang sesekali menghapus air matanya. "Awalnya Bunda memang tidak mempunya perasaan apapun kepada Ayahmu, namun lambat laun, Bunda mencintainya. Ayahmupun memperlakukan Bunda dengan sangat baik, disitulah Bunda tidak mengira kalau Ayahmu sudah memiliki istri sebelum Bunda." Tangisnya kembali pecah. Aku memeluk Bunda sejenak untuk meredakan tangis Bunda. Setelah tenang, Bunda melanjutkan ceritanya. "Semua terasa sempurna saat itu, kelahiran Abang Yayang, perlakuan manis Ayahmu, hingga kehadiran buah hati kami yang ke dua." Bunda menghela nafas panjang dan menatap kedua mataku. "Menjelang kelahiran anak Bunda yang kedua, disitulah Bunda baru mengetahui bahwa Ayahmu memiliki istri lain selain Bunda. Bahkan istrinya juga hamil anak pertama, kehamilan yang begitu dinanti-nanti semenjak pernikahannya, terlebih mereka menikah lebih dulu dibandingkan dengan Bunda." "Bunda emosi, tekanan darah Bunda naik, dan Bunda mengalami pendarahan saat melahirkan anak kedua Bunda, hingga bayi itu meninggal." Ucap Bunda sambil terisak. Tunggu dulu, jika anak Bunda yang kedua meninggal, lalu aku? Apakah aku anak ketiga? "Maksud Bunda, Adik dari Abang yayang, dan Kakakku yang meninggal?" Tanyaku memastikan. Namun gelengan kepala Bunda membuat tanda besar di kepalaku. "Lalu aku?" Tanyaku cemas. "Aku anak siapa Bunda?" Tanyaku penasaran. "Kamu anak Ayahmu, sayang." "Iya anak Ayah dengan Bunda, kan?" Tanyaku memastikan. Lagi-lagi Bunda menggelengkan kepalanya. "Kamu anak Ayahmu dengan istri pertamanya." Ucap Bunda sambil menangis histeris. Sesaat aku terdiam berusaha mencerna ucapan Bunda. Hingga sentuhan Bunda yang menggoyang-goyangkan tubuhku menyadarkanku. "Bunda menyuruh orang untuk menukar Bayi Bunda yang sudah meninggal dengan Bayi yang dilahirkan istri pertama Ayahmu, kebetulan jenis kelaminnya sama dan lahir di hari yang sama." Ungkapnya dengan histeris.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD