"Bunda menyuruh orang untuk menukar Bayi Bunda yang sudah meninggal dengan Bayi yang dilahirkan istri pertama Ayahmu, kebetulan jenis kelaminnya sama dan lahir di hari yang sama." Ungkapnya dengan histeris.
"Bunda mohon, jangan membenci Bunda. Bunda sayang sama kamu Yang." Ucap bUnda mencengkram kedua lenganku sambil menggoyang-goyangkannya. Nyawaku seperti terbang entah kemana mendengar penuturan Bunda.
"Bunda mohon, jangan tinggalkan Bunda Yang. Bunda sayang sama kamu." Ucapnya histeris. Aku menghela nafas panjang. Aku akui, aku tidak pernah mengira kalau aku bukanlah anak Bunda. Mengingat bagaimana kasih sayang Bunda kepadaku. Bunda sangat menyayangiku, bahkan tidak pernah terbesit bahwa aku bukanlah anak Bunda.
Namun siapa sangka, bahwa kenyataannya aku adalah anak dari wanita saingan Bunda dalam memenangkan hati Ayah.
"Bunda bersumpah, Bunda sayang sama kamu Yang, sama seperti Bunda menyayangi Abang kamu."
"Bunda, Yayang sayang sama Bunda. Percayalah. Kalau Yayang boleh tau, apa alasan Bunda menukar bayi Bunda dengan Yayang?"
"Bunda nggak rela Ayahmu hidup bahagia, Bunda takut Ayahmu meninggalkan Bunda saat istri pertamanya mempunyai buah cinta mereka. Bunda merasa, Ayahmu bersikap baik selama ini mungkin karena istri pertamanya belum memiliki anak. Bunda tidak bisa membayangkan bagaimana nanti Ayahmu benar-benar meninggalkan Bunda." Ucap Bunda frustasi.
"Namun kenyataannya Ayah meninggalkan Bunda juga." Ucapku lirih.
***
"Kenapa murung?" Tanya Bang Yayang duduk di sampingku. Aku hanya diam menghela nafas panjang sambil memandang rerumputan yang bergoyang tertiup angin di taman belakang rumah kami.
"Apakah Bunda sudah menceritakan semuanya?" Tanya Bang Yayang lagi, aku menoleh menatap Bang Yayang. Apakah selama ini Bang Yayang sudah tahu?.
"Ya, Bang Yayang sudah tau sejak Ayah dan Bunda berpisah." Jawab Bang Yayang seolah tau dengan pertanyaan di kepalaku. Bang Yayang meraih satu tanganku dan menggenggangnya.
"Maaf, kalau Abang menyembunyikannya selama ini. Abang hanya menunggu waktu yang tepat untuk Bunda menceritakan semuanya." Ucapnya lagi.
"Apakah kamu marah?" Aku menggeleng pelan.
"Yayang hanya kecewa." Ucapku lirih.
"Abang mengerti jika kamu kecewa, begitupun Abang yang kecewa dengan tindakan Bunda. Namun Abang juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Bunda, semua Bunda lakukan, karena Bunda terlalu takut dan sakit hati."
"Kenapa Bunda berbohong, kalau Ayah meninggalkan Bunda karena berkhianat?" Tanyaku penasaran.
"Bunda sengaja, karena awalnya, Ayah tidak akan sadar kalau kamu telah ditukar Bunda dengan Bayi yang Bunda lahirkan." Bang Yayang mengusap kepalaku lembut, sebelum akhirnya menarik kepalaku untuk bersandar di bahunya.
"Percayalah, kalau Bunda tidak sejahat itu. Bukankah Bunda selama ini menyayangimu dengan tulus?" Aku menganggukkan kepalaku sebagai jawaban.
"Apakah itu alasannya Abang selalu menjemput dan mengantarku ke sekolah? Karena takut Ayah menculikku dari Bunda? Jangan-jangan, penculik waktu itu suruhan Ayah?" Bang Yayang menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Tangannya masih saja membelai rambutku pelan.
"Maafkan Bunda." Jawaban Bang Yayang seolah, membenarkan pertanyaanku.
"Datanglah ke rumah Ayah, temui Ibumu. Abang yakin dia sangat merindukanmu." Aku menegakkan kepalaku dan menatap ke arah Bang Yayang.
"Kenapa?"
"Abang hanya tidak ingin kamu membenci Ibumu, karena Bunda. Mereka tidak bersalah. Keadaan yang membuat mereka berada di situasi sulit seperti ini." Jawab Bang Yayang bijak.
"Apa Abang membenci wanita itu?"
"Ibu, Yang. Panggil dia Ibu. Karena dia Ibumu." Ucap Bang Yayang mengoreksi ucapanku.
"Apa Abang membenci dia?" Tanyaku lagi.
"Kalau yang kamu maksud Ibumu, tentu Abang tidak membencinya. Kita tidak pernah tahu luka apa yang sudah mereka lalui, Yang." Lagi, Bang Yayang menghela nafasnya.
"Temuilah... terlebih, kamu anak satu-satunya. Ibumu nyaris gila karena mengira bayinya sudah meninggal. Maaf." Aku terkejut mendengar ucapan Bang Yayang. Abangku yang bernama Levin Andara itu, menatapku dengan berkaca-kaca.
"Percayalah, Bunda dan Abang akan selalu menyayangimu, terlepas dari rahim siapapun kamu terlahir, kita mempunyai Ayah yang sama." Setetes air mata lolos dari pelupuk mata Bang Yayang. Baru kali ini aku melihatnya menangis.
***
Setelah mengantar kami, Bang Yayang melesat meninggalkan sekolahku mengendari mobil Kay. Ya, Bang Yayang mengantar aku dan Kay ke sekolah, sebelum dia berangkat lagi. Entah menjadi supir taksi online, atau pergi ke kampus untuk kuliah. Aku tidak pernah tahu jadwal Bang Yayang dengan pasti.
"Yang, kamu ke kelas duluan ya. Aku mau ke ruang guru dulu." Ucap Kay menyerahkan ranselku. Seperti Biasa Kay memaksa membawakan ranselku, padahal aku sudah berusaha menolak, karena aku bisa membawanya.
"Ada masalah?" Tanyaku khawatir.
"Enggak ada apa-apa. Mana mungkin siswa pintar kaya aku bermasalah." Ucapnya jumawa. Aku hanya memutar bola mataku jengah. Kay, memang berprestasi. Bisa dikatakan, Kay saingan Farris dalam bidang akademik.
Setelah Kay berlalu, aku kembali melangkahkan kakiku menuju kelas, tiba-tiba ada yang mendorongku dari belakang hingga aku terjatuh.
"Opps, sengaja." Ucap Lidya sambil cekikikan. Aku menghela nafas, tidak mengira kalau hal ini akan menimpaku.
Lidya, salah satu pemuja Farris. Bahkan Lidya pernah berpacaran dengan Farris saat kelas IX. Entah apa yang menyebabkan mereka putus, namun sejak putus dari Lidya, yang aku tahu Farris tidak pernah menjalin hubungan dengan siswa lain.
Memang banyak yang mengaku sebagai pacar Farris, namun Farris selalu membantahnya.
"Hello... cewek sok kecakepan, pake soo nolak Farris." Cibir Lidya melambaikan telapak tangannya di mukaku. Lamunanku buyar dan kembali sadar, saat melihat Lidya dan kedua dayang-dayangnya, Anggi dan Jenny.
Aku membersihkan lututku dan berusaha berdiri, belum sempurna aku berdiri, aku merasakan seseorang menarik lenganku untuk membantuku berdiri.
"Sayang." Lagi, Lidya mendorongku dan menghampiri Pria yang menolongku. Farris. Ternyata Farris yang membantuku berdiri.
"Hentikan Lidya, kita sudah lama putus." Ketus Farris.
"Ayolah Farris, bahkan cewek cupu ini sudah jelas-jelas menolakmu dan memilih Kay." Ejek Lidya sambil menunjukku.
"Bukan urusanmu." Bantah Farris.
"Jelas urusanku, kalo bukan karena cewek sialan ini, kamu nggak mungkin mutusin aku." Teriak Lidya.
"Apa maksudnya?" Tanyaku penasaran.
"Bukan juga urusanmu." Farris berlalu hendak meninggalkan kami, namun dia berbalik dan menatap Lidya tajam.
"Jangan ganggu Zeva." Ucapnya tegas. Lidya menghentakkan kedua kakinya kesal. Sedangkan kedua dayang-dayangnya berusaha menghiburnya. Lidya menabrak tubuhku dengan cukup keras, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkanku.
Aku hanya terdiam memikirkan ucapan Farris dan Lidya barusan. Aku? Kenapa harus menyeretku ke dalam permasalahan cinta mereka.
"Yayang, kok masih di sini?" Tanya Kay membuyarkan lamunanku.
"Eh, udah selesai urusannya?" Tanyaku berusaha mengalihkan pertanyaannya.
"Udah. Yayang kenapa masih di sini?"
"Udah yuk, ke kelas." Aku segera menarik Kay menuju kelas dan menghiraukan pertanyaannya.
***
Alhamdulillah tidak ada reaksi berlebih dari para pemuja Farris. Entah karena pengakuan Kay yang menjadi pacarku, atau karena ancaman Farris sendiri terhadap ketua pemuja Farris, yaitu Lidya. Entahlah. Akupun tidak ambil pusing.
Sejujurnya aku mengenal Farris sejak Sekolah Dasar. Terlebih, Mami, Bundanya Farris berteman baik dengan Bundaku. Semua biasa saja, hingga kelulusan Kami, Farris memutuskan pindah ke Bandung karena Papinya dipindah tugaskan di kota kembang.
Aku bertemu Farris kembali saat aku mendaftar di SMA Nusantara ini. Aku yang menyapa Farris kali pertama kami berjumpa, namun Farris hanya menjawab sapaanku datar. Aku kira Farris tidak suka dengan kehadiranku saat itu. Jadi akupun berusaha menjaga jarak dengannya.
Terlebih seiring berjalannya waktu, Farris menjadi idola di sekolah kami, dan tentu saja aku semakin menyingkir karena tidak mau menjadi sasaran dari para pemuja Farris yang bar-bar itu.
Sedangkan Kay, dia murid pindahan pada tahun ajaran ke dua. Aku bahkan tidak terlalu akrab dengannya, aku hanya mengenalnya dari Maryam sahabatku sejak SMP. Hanya sesekali aku memperhatikan Kay, saat kami bertemu, tidak ada perasaan apapun saat itu, maupun kini saat Kay sudah semakin akrab denganku, maupun dengan keluargaku. Semua karena Abang Yayang yang telah berjasa membantu Kay kala itu.
"Yang, pulangnya nunggu Bang Yayang jemput, ya." Ucap Kay tiba-tiba. Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Woi, pacaran aja lo berdua." Ucap Maryam sambil menggebrak meja. Aku dan Maryam tidak sekelas saat kami menginjak tahun ke tiga. Sedangkan Kay sekelas denganku saat tahun ke tiga. Namun dengan Farris, aku tidak pernah sekelas dengannya.
"Ganggu aja lo, Yam." Jawab Kay santai.
"Yam... Yam... lo kira gue Ayam." Ucap Maryam kesal. Kay hanya tertawa mendengar ucapan Maryam.
"Pindah, Kay. Gue mau ngomong sama Zeva." Ucap Maryam menepuk pundak Kay, Kay pun segera bangkit dari duduknya dan memberikan ruang kepada Maryam untuk menempati kursinya.
"Aku tunggu di luar aja ya, Yang." Ucap Kay sebelum berlalu. Aku hanya menganggukkan kepalaku sebagai jawaban.
"Iya udah sono, ganggu aja lo." Jawab Maryam ketus. Lagi-lagi Kay hanya tertawa menanggapi ucapan Kay.
"Tumben lo ke kelas gue?" Biasanya Maryam ke kelasku hanya jam istirahat, karena setelah jam pelajaran usai, dia langsung kabur karena banyak les menantinya. Maryam sering mengeluh karena Bu Dwi, Mamanya meminta Maryam banyak mengikuti les, baik itu les piano, les bahasa inggris, matematika, juga les vokal.
"Tadi jam istirahat gue ngerjain PR Pak Dahlan, hehehe gue semalem ketiduran." Jawabnya enteng.
"Makanya jangan pacaran terus."
"Yee... yang pacaran elo, gue belum punya pacar."
"Siapa yang pacaran."
"Pikun.!" Ucap Maryam sambil menoyor kepalaku.
"Kemarin Kay ngasih pengumuman kalo lo itu pacar lo, apa itu namanya kalo bukan karena lo ma Kay udah jadian." Ucap Maryam galak.
"Ooh."
"Kok cuma 'Oh' sih?" Tanyanya kesal.
"Ya terus gue harus jawab apa?"
"Ya lo cerita sama gue, sejak kapan lo pacaran sama Kay?" Maryam menarik tubuhku agar duduk menyerong menghadapnya.
"Jangan bilang lo mulai pacaran semenjak si Kay manggil-manggil lo dengan sebutan Yayang?" Tanya Maryam berusaha mengintimidasiku. Aku menghela nafas jengah.
"Lo tau sejarah kenapa Kay ikut-ikutan manggil gue Yayang, Mar." Jawabku.
"Terus kenapa kemarin Kay bikin pengakuan kaya gitu? Gue sih gak percaya kalo Kay bohong, gue yakin seribu persen kalo Kay suka sama lo." Ucap Maryam sok tahu.
"Kay cuma berusaha melindungi gue dari pemuja Farris, Mar. Lo juga tahu gimana bar-barnya para pemuja Farris " Ucapku berusaha menjelaskan.
"Lo nggak bohong kan?" Tanya Maryam seolah tidak percaya dengan ucapanku.
"Untungnya apa gue bohong sama lo?" Maryam menatap kedua mataku, seolah mencari kejujuran di sana.
"Ya... gue akuin fans Farris itu emang nggak ada otak semua, apalagi ketuanya tuh, Lidya." Ucap Maryam cekikikan.
"Eh tapi, lo bilang kan kenal Farris dari SD, apa iya lo nggak ada rasa? Farris ganteng, terkenal, pintar juga. Ya... mirip-mirip Kay sih, tapi Kay orangnya down to earth banget, kalo Farris kan kaya bintang, bersinar terang di angkasa." Jelas Maryam sambil tertawa.
"Gak, dan lo juga tau kenapa gue nggak mau pacaran." Ucapku sambil bangkit meninggalkan Maryam.
"Mau kemana lo?" Tanya Maryam.
"Pulang, Bang Yayang mungkin udah di depan."
"Bang Yayang apa takut Kay nungguin lo kelamaan?" Goda Maryam.
"Terserah." Akupun berlalu meninggalkan Maryam yang masih tertawa di kelas.
Sepeninggalku dari kelas, aku berusaha mencari Kay, namun nihil. Aku melangkahkan kakiku menuju halte ya g berada tepat di samping gerbang sekolah, biasanya aku dan Kay menunggu Bang Yayang di sana. Namun belum genap langkahku mencapai gerbang sekolah, aku melihat Ayah berdiri sambil tersenyum di sana.